Pemerintah Terbitkan Green Sukuk Global US$3 Miliar

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah kembali melakukan penerbitan pasar sukuk global sebesar US$125 miliar tenor 5 tahun dan US$1,75 miliar tenor 10 tahun dengan format Reg S/ 144A Trust Certincates yang akan jatuh tempo pada 2023 dan 2028 yang disebut Sukuk wakalah.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  16:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah kembali melakukan penerbitan pasar sukuk global sebesar US$1,25 miliar tenor 5 tahun dan US$1,75 miliar tenor 10 tahun dengan format Reg S/ 144A Trust Certincates yang akan jatuh tempo pada 2023 dan 2028 yang disebut Sukuk wakalah.

Sukuk wakalah ini diterbitkan oleh Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia III yang disebut sebagai PPSl-III atau sebuah badan hukum Republik yang bertujuan khusus untuk menerbitkan surat berharga yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dalam mata uang asing di pasar internasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sukuk wakalah ini akan didaftarkan pada Bursa Saham Singapura atau Singapore Stock Exchange dan NASDAQ Dubai. Setelmen akan dilaksanakan pada 1 Maret 2018. Sukuk Wakalah ini ditetapkan harganya pada 22 Februari 2018, dengan imbal hasil (yield) sebesar 3,750% untuk tenor 5 tahun dan 4.400% untuk tenor 10 tahun. Setiap seri telah diberikan peringkat Baa3 oleh Moody’s Investors Service, BBBoleh S&P Global Ratings, dan BBB- S&P Global Ratings, dan BBB oleh Fitch Ratings.

"Sukuk Wakalah dengan tenor 5 tahun merupakan penerbitan Green Sukuk pertama kalinya di dunia yang dilakukan oleh pemerintah negara [sovereign] dan juga merupakan penerbitan pertama yang dilakukan oleh Republik di bawah Kerangka Green Bond dan Green Sukuk yang baru ditetapkan," katanya melalui keterangan resmi, Senin (26/2/2018).

Transaksi ini berhasil dilaksanakan dengan memanfaatkan waktu yang tepat setelah terjadinya volatilitas yang tinggi di pasar modal global, yang didorong oleh ekspektasi inflasi Amerika Serikat dan peningkatan suku bunga Fed sejak awal Februari 2018.

Transaksi ini didukung oleh orderbook global dengan kualitas yang baik, yang menunjukkan ketahanan dan dalamnya pasar sukuk serta menunjukkan kuatnya minat investor terhadap penerbitan ini.

Penetapan harga (pricing) Sukuk Wakalah Republik adalah pada 30 bps lebih rendah daripada indikasi pricing awal (initial pricing guidance) untuk kedua seri. Transaksi ini sejalan dengan tujuan Republik untuk memperkokoh pasar keuangan syariah global dan komitmen terhadap pendanaan hijau yang ramah lingkungan.

"Ini merupakan penerbitan Sukuk dalam mata uang US$ yang kesembilan oleh Republik dan merupakan penerbitan ketujuh di bawah Program Penerbitan Trust Certificate," ujar Sri Mulyani.

Struktur akad Sukuk ini adalah Wakalah, dengan underlying asset: (i) Barang Milik Negara (BMN) berupa tanah dan bangunan (51%), dan (ii) proyek-proyek APBN yang sedang dalam pembangunan atau akan dibangun (49%).

Sri Mulyani mengemukakan setelah melalui serangkaian pertemuan dengan investor yang mencakup pusat keuangan di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Sukuk Wakalah menarik minat dari berbagai investor, baik di dalam maupun di luar negeri dengan Sukuk Wakalah tenor 5 tahun berhasil didistribusikan kepada 32% investor syariah Timur Tengah dan Malaysia, 10% dalam negeri, 25% di Asia kecuali Indonesia Malaysia, dan Timur Tengah, 18% di Amerika Serikat, dan 15% di Eropa.

Sementara itu, Sukuk Wakalah tenor 10 tahun didistribusikan 24% kepada investor syariah Timur Tengah dan Maiaysia, 10% dalam negeri, 12% di Asia kecuali Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah, 22% di Amerika Serikat, dan 32% di Eropa.

Alokasi berdasarkan jenis investor untuk Sukuk Wakalah tenor 5 tahun adalah 29% untuk reksa dana, 40% untuk bank. 20% untuk bank sentral dan sovereign wealth fund, 10% untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun, dan 1% untuk private bank.

Sementara untuk Sukuk Wakalah tenor 10 tahun, alokasinya adalah 47% untuk reksa dana, 39% untuk bank, 7% untuk bank sentral dan sovereign wealth fund, 6% untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun, dan 1% untuk private bank.

Abu Dhabi lsIamic Bank PJSC, Citigroup (B&D), CIMB, Dubai Islamic Bank PJSC and HSBC akan bertindak sebagai Green Structuring Adviser dan juga bertindak sebagai Joint Lead Managers dan Joint Bookwnner. Sementara itu, PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. bertindak sebagai co-managers untuk transaksi ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sukuk global

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top