Separuh Laba Bersih Perbankan Dikuasai Bank BUMN

Perolehan laba perbankan pada 2018 diperkirakan masih akan didominasi oleh bank-bank besar dan bank pemerintah.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  21:01 WIB
Separuh Laba Bersih Perbankan Dikuasai Bank BUMN
Nasabah berjalan di dekat mesin anjungan tunai mandiri, di Jakarta, Senin (18/9). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Perolehan laba perbankan pada 2018 diperkirakan masih akan didominasi oleh bank-bank besar dan bank pemerintah.

Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk. Adrian Panggabean menilai pertumbuhan laba dan kredit pada 2018 masih akan didominasi oleh bank BUKU IV, seperti halnya pada 2017 lalu.

Hal itu mengingat perbedaan struktur pendanaan yang dimiliki bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang lazimnya memiliki porsi dana murah yang relatif lebih besar.

“Mengingat perbedaan struktur biaya dana antar-BUKU, di mana BUKU IV porsi dana murahnya relatif lebih besar, saya rasa pertumbuhan kredit di 2018, sebagaimana halnya di 2017, akan tetap lebih didominasi oleh bank-bank BUKU IV,” katanya kepada Bisnis, Minggu (25/2/2018) malam.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, per Desember 2017, total laba sebelum pajak bank-bank umum sepanjang tahun lalu mencapai Rp166,89 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 21,4% secara year on year dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp137,47 triliun.

Adapun, perolehan laba bersih setelah dikurangi taksiran pajak pada 2017 mencapai Rp131,15 triliun, tumbuh 23,0% dibandingkan dengan realisasi pada 2016 sebesar Rp106,54 triliun.  

Kenaikan laba bersih tersebut merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Pada 2015, saat laba bank turun 6,7% yakni menjadi Rp104,63 triliun dari Rp112,21 triliun pada tahun sebelumnya.

Dilihat dari penyebarannya, mayoritas laba tersebut dikuasai oleh bank BUKU IV, yang terdiri dari 3 bank BUMN dan 2 bank swasta. Secara khusus, untuk bank pelat merah mengantongi lebih dari separuh capaian laba bersih perbankan.

 Keempat bank BUMN di Tanah Air yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., membukukan total laba bersih Rp66,31 triliun sepanjang 2017.

Realisasi itu tumbuh 22,8% sebagai imbas dari aksi resktrukturisasi yang dilakukan bank BUMN sejak dua tahun terakhir.  

Pada tahun ini, kinerja dan pembentukan laba perbankan diharapkan akan lebih positif. Banyak yang optimistis capaiannya akan mencapai dua digit melampaui capaian tahun lalu, apabila tidak ada gejolak yang berarti kredit serta didukung kenaikan kredit.

Analis Recapital Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan seiring dengan membaiknya NPL dan rampungnya aksi bersih-bersih kredit macet, kinerja bank akan lebih positif pada tahun ini.

“NPL semua terkendali. Tahun kemarin ada sektor tambang dan properti yang bikin NPL bank pada naik dan tahun ini sudah pada aman. Kenaikan laba bersih tahun ini sekitar 23% juga sama seperti 2017,” ujar Kiswoyo.

Sementara itu, menurut Edy laba perbankan pada 2018 berpotensi tumbuh lebih tinggi. Hanya saja, tantangan bank, khususnya bank kecil akan lebih berat pada 2018 dengan alasan kredit jumlah besar yang masih berpotensi bermasalah. Bank kecil perlu terus memperkuat permodalan dan pencadangan agar mampu bersaing.

“Lihat saja banyak berita kepailitan, kejahatan di kredit, restrukturisasi yang gagal, bank BUMN akan membentuk holding AMU, hapus buku yang terus meningkat,” katanya.

Di lain pihak, Bhima juga mengatakan perbankan masih menghadapi sejumlah tantangan pada tahun ini, seperti berakhirnya era bunga murah dan potensi kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 25-50 bps.

Oleh karena itu, Bhima memproyeksikan growth laba tahun ini akan lebih moderat. Kredit diperkirakan tumbuh di kisaran 8,5% - 9% dipicu kenaikan konsumsi di tahun politik, perbaikan harga komoditas dan naiknya belanja perlindungan sosial serta kenaikan ekspor.

“Karena di 2017 kredit macetnya sudah dihapus dan titik balik maka kelihatan growthnya langsung loncat dari 1,8% ke 23%. Nah tahun ini mungkin kenaikan growthnya tetap positif tapi di kisaran 10%-15%,” tuturnya.

PENDORONG LABA

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Haryono Tjahjarijadi menuturkan, dalam pembentukan laba, bank tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga bersih tetapi juga mengoptimalkan pendapatan komisi. Misalnya dengan mamacu bisnis bancassurance, trade, serta produk dan layanan e-channel/digital.

“Artinya bank-bank juga mengalami pergeseran strategi sehingga tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga bersih tapi juga pendapatan fee based income, di samping juga efisiensi dan restrukturisasi,” tuturnya.

Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo mengungkapkan growth jumbo laba bersih bank umum itu tak lepas dari pengurangan pencadangan bank-bank kecil.

“CKPN sudah dicadangkan tinggi pada 2016 sehingga 2017 pencadangannya menjadi lebih kecil,” ungkapnya.
Terlepas dari pertumbuhannya yang tinggi, beberapa kalangan memandang perolehan laba bersih perbankan pada 2017 pada dasarnya baru mencapai titik balik normal setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun sebelumnya.

“Jangan tertipu persentase, kalau melihat tahun 2015-2016 banyak bank besar naiknya sedikit, bahkan banyak yang minus karena masalah NPL. Baru mulai balik normal tahun 2017, jadi sepertinya 2017 naik tinggi,” kata Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja.

Dia mengungkapkan pertumbuhan laba industri perbankan perlu terus dipertahankan agar tidak sampai membahayakan pasar modal.

“Saya khawatir kalau laba 2017 jelek lagi, investor asing akan buang saham-saham bank yang notabene besar bobotnya di bursa Indonesia. Kalau itu terjadi, bahaya crash di pasar modal,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
laba bank

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top