Kemendikbud Klaim Realisasi Belanja 2017 Capai 97,10%

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud menyebutkan realisasi belanja Kemendikbud hingga 31 Desember 2017 sebesar Rp36,87 triliun atau setara dengan 97,10% dari pagu sebesar Rp37,97 triliun.
Thomas Mola | 27 Februari 2018 20:15 WIB
Ilustrasi - Petugas memindahkan uang di cash center Plaza Mandiri, Jakarta. - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud menyebutkan realisasi belanja Kemendikbud hingga 31 Desember 2017 sebesar Rp36,87 triliun atau setara dengan 97,10% dari pagu sebesar Rp37,97 triliun.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan realisasi belanja tersebut terdiri dari realisasi belanja pegawai sebesar Rp7,71 triliun, realisasi belanja barang sebesar Rp18,58 triliun, dan realisasi belanja bantuan sosial (bansos) sebesar Rp9,47 tirliun.

Realisasi belanja bantuan sosial merupakan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 17,99 juta siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Menurutnya, realisasi belanja barang sebagian besar dialokasikan untuk bantuan pemerintah, antara lain rehabilitasi ruang belajar, pembangunan unit sekolah baru (USB), ruang kelas baru (RKB), dan sekolah berasrama.

Selain itu ada alokasi untuk program SD-SMP satu atap, laboratorium, perpustakaan, bantuan peningkatan kualitas guru/sekolah, Kurikulum 2013, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), layanan pendidikan daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T), beasiswa unggulan, dan beasiswa dharmasiswa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/2/2018).

Adapun, Kemendikbud telah menyerahkan laporan keuangan unaudited Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2017 kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Laporan Keuangan tersebut diterima secara resmi oleh Anggota VI BPK Harry Azhar Azis, yang didampingi Auditor Utama Keuangan Negara VI BPK RI, Dori Santosa, di Gedung BPK, Jakarta, Senin (26/2/2018).

Muhadjir Effendy mengklaim Laporan Keuangan Kemendikbud Tahun Anggaran 2017 telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Aktual, dengan mengonsolidasikan 365 satuan kerja (satker) di lingkungan Kemendikbud.

“Satker tersebut meliputi 198 satker di pusat dan daerah, 18 satker Atase Pendidikan dan Kebudayaan, 128 satker Dekonsentrasi, dan 21 satker Tugas Pembantuan,” katanya.

Dia menegaskan Kemendikbud berkomitmen terus memperbaiki tata kelola dan akuntabilitas pengelolaan keuangan di lingkungan Kemendikbud, salah satunya melalui berbagai aplikasi keuangan berbasis teknologi informasi yang dirancang untuk memantau setiap transaksi pada satker Kemendikbud.

Harry Azhar Azis mengatakan dengan diterimanya Laporan Keuangan Unaudited Kemendikbud Tahun Anggaran 2017, selanjutnya BPK segera memulai pemeriksaan.

BPK RI juga akan mengkaji sejauh mana program-program Kemendikbud dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diperoleh Kemendikbud berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau bisa memperoleh WTP tapi angka kemiskinan dan pengangguran tidak turun, berarti akuntabilitas pemerintah atau kualitas good governance tidak memberikan manfaat bagi tujuan kesejahteraan,” tuturnya.

Tag : apbn, kemendikbud, pagu anggaran
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top