Sri Mulyani Buka-bukaan Soal Obrolan Lagarde dan Presiden Jokowi

Bisnis.com, JAKARTA Kemarin, Senin (26/2/2018), Direktur Pelaksana Dana Moneter IMF Christine Lagarde melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.
Ipak Ayu H Nurcaya | 27 Februari 2018 11:04 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (keempat kanan), Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kelima kanan), Menkeu Sri Mulyani (kedua kanan) dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde (ketiga kiri) bersama delegasi di Istana Merdeka Jakarta, Senin (26/2/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA — Kemarin, Senin (26/2/2018), Direktur Pelaksana Dana Moneter IMF Christine Lagarde melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menceritakan hasil pertemuan tersebut. Salah satunya yakni IMF masih optimistis perekonomian Indonesia akan tumbuh 5,3% dengan dorongan tiga sektor yakni konsumsi, ekspor, dan investasi.

Sri Mulyani mengemukakan optimisme IMF pun berlanjut dengan mengklaim peluang dari potensi-potensi yang dimiliki Indonesia saat ini.

"IMF juga mengapresiasi sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Salah satunya reformasi terutama dari sisi investasi seperti single submission dan pendidikan vokasi," katanya, Selasa (27/2/2018).

Dirinya menambahkan Indonesia juga berharap saran dari IMF dalam kaitannya perkembangan ekonomi digital. Sebab, pemerintah Indonesia memiliki harapan tren ini akan memberi manfaat yang besar terutama pada UMKM.

Sayangnya, IMF menyampaikan hal ini masih menjadi fenomena yang sedang dan terus menjadi bahan pembahasan di antara policy maker. Juga mengenai masalah digital currency, sistem pembayaran, dan sistem keuangan yang tetap harus dijaga saat terjadi banyak sekali inovasi dan banyaknya disruption yang mungkin terjadi.

Sri Mulyani juga menegaskan langkah Indonesia menempatkan kebijakan terutama untuk pendidikan dan vokasi skill dari masyarakat terutama generasi muda, untuk bisa siap hadapi era digital juga diapresiasi IMF.

"Lagarde sampaikan itu adalah hal tepat dan bagus, keputusan pemerintah untuk melakukan itu. Dia menyampaikan negara seperti Jerman dan Denmark memiliki program cukup baik. Di mana kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dalam vokasi menjadi salah satu syarat. Jadi jangan hanya dilakukan oleh pemerintah tanpa connection dengan industri maupun pelaku ekonomi," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah juga berharap nantinya usai pertemuan rutin tahunan bisa dibuatkan principal-principal dari sisi policy mengenai isu yang sedang menjadi pembicaraan banyak negara seperti perubahan arus teknologi.

Sebab, persoalan utama yakni negara tid­ak paham dan tidak siap. Sehingga dibutuhkan saling belajar.

"Ini ajang untuk be­lajar bisa dilakukan saat terjadi perte­muan yang didukung oleh berbagai studi-s­tudi cukup baik, seh­ingga kita bisa mel­ihat bagaimana policy disiapkan atau mer­espons terhadap perub­ahan," kata Menteri Terbaik di Dunia 2018 versi Ernst & Young dan diselenggarakan oleh World Government Summit ini.

Sementara itu, Sri Mulyani menambahkan untuk kondisi perekonomian global IMF memastikan tahun ini dan tahun depan relatif akan stabil dengan pertumbuhan sekitar 3,9%.

Hal ini akan memberikan cukup banyak kesempatan bagi negara-negara melakukan pemanfaatan dari momentum ekonomi dunia yang dianggap cukup baik.

Pertumbuhan Amerika Serikat (AS) akan menguat karena adanya policy dari fiskal dan kemungkinan agak dinetralisir kebijakan moneter. Namun ini sesuatu yang harus diwaspadai, karena di satu sisi AS akan menumbuhkan ekonominya lebih tinggi.

Sisi lain inflasi AS juga akan meningkat. Sehingga ini akan menimbulkan implikasi pada keseluruhan ekonomi dunia, mengenai yang disebut inflasi global, suku bunga maupun interest rate yang ada di seluruh dunia, trennya masa kini dan masa mendatang.

Tag : imf
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top