Bunga Turun, Likuiditas Bisa Mengetat

Penurunan tingkat suku bunga simpanan berpotensi berlanjut pada tahun ini, tetapi hal itu bisa memicu perpindahan dana milik deposan ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi sehingga dapat mengetatkan likuiditas perbankan.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 27 Februari 2018  |  21:49 WIB
Bunga Turun, Likuiditas Bisa Mengetat
Stiker Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tertempel di pintu salah satu bank di Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan tingkat suku bunga simpanan berpotensi berlanjut pada tahun ini, tetapi hal itu bisa memicu perpindahan dana milik deposan ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi sehingga dapat mengetatkan likuiditas perbankan.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan tren penurunan bunga deposito masih dapat berlanjut, mempertimbangkan kondisi tahun lalu di mana likuiditas masih cukup memadai dengan penyaluran kredit yang juga masih rendah.

Meski demikian, ruang penurunan suku bunga simpanan akan semakin terbatas di tengah laju inflasi serta arah kebijakan moneter yang lebih stabil. Namun, penurunan suku bunga simpanan itu justru berpotensi mengetatkan likuiditas.

“Respons penurunan antar kelompok bank cukup berbeda, khususnya pada kelompok bank kecil, sehingga berpotensi menimbulkan risiko likuditas jika penurunan suku bunga ini terus berlangsung,” kata Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Doddy menjelaskan, risiko pengetatan likuiditas tersebut bukan hanya karena perebutan dana antarbank tetapi potensi perpindahan dana ke pasar modal karena mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

Menurutnya, pengetatan likuiditas berpotensi terjadi jika penurunan suku bunga simpanan terlalu rendah sehingga menimbulkan relokasi dana untuk mencari yield, terutama ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham atau mungkin ke luar negeri.

“Isunya flight ke instrumen lain. Kalau kompetisi antarBUKU, kami belum lihat sebagai suatu risiko. Karena likuiditas perbankan di-drive oleh bank-bank besar dan bank kecil umumnya follower,” paparnya.

Meski demikian, sepanjang perkembangan suku bunga perbankan besar masih stabil seperti saat ini, Doddy memperkirakan likuiditas masih akan memadai.

LPS menyebutkan bunga deposito pada awal Januari 2018 mengalami penurunan, melanjutkan tren pada akhir tahun lalu. Rata-rata bunga deposito bank benchmark LPS mencapai 5,48% padaakhir Januari 2018, turun 4 basis poin (bps) dari posisi akhir Desember 2017.

Hal serupa terjadi pada rata-rata suku bunga minimum yang turun 2 bps ke posisi 4,71% serta rata-rata suku bunga maksimum yang terpangkas sebanyak 5 bps menjadi 6,25%.

“Penurunan suku bunga bank-bank besar mulai melandai, suku bunga turun karena kredit belum terlalu ekspand, masih single digit growth.  Tahun ini kami proyeksikan kredit tumbuh 10%-12%,” tambahnya.

BANK KECIL

Secara terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah memperkirakan bank kecil dan menengah akan cenderung mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga simpanan untuk merebut likuiditas.

“Tahun ini hampir tidak ada kemungkinan Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga, artinya perbankan khususnya bank kecil menengah punya kesempatan untuk menaikkan suku bunga deposito sebagai upaya untuk meningkatkan dana simpanan,” ujarnya.

Sebagai imbas dari kondisi tersebut, bank besar juga akan melakukan hal yang sama. Selanjutnya bank akan menaikkan suku bunga kredit demi menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan laba.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menyatakan kondisi likuiditas perbankan pada 2018 tidak terlalu mengkhawatirkan, kendati ada potensi risiko pengetatan.

Direktur Keuangan dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko menuturkan pertumbuhan likuiditas yang bersumber dari simpanan masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) berpeluang melambat.

“Saya tidak begitu khawatir. Likuiditas yang bersumber dari DPK mungkin growth-nya melambat tetapi bank bisa juga mengambil dana wholesale atau dari capital market, malah ini bisa memperdalam sistem keuangan kita karena makin terkaitnya sistem perbankan dengan pasar modal,” ujarnya.

Penghimpunan dana wholesale tersebut selama ini telah dilakukan BTN, antara lain dengan menerbitkan obligasi, negotiable certificate of deposit (NCD), dan pinjaman bilateral. Selama ini BTN menjaga proporsi pendanaan jangka panjang wholesale hingga mencapai 15% dari total pendanaan perseroan.

Tahun 2018, bank spesialis kredit perumahan itu menargetkan menghimpun dana nonDPK hingga mencapai Rp18 triliun, meningkat sekitar Rp3 triliun dari tahun lalu.

Adapun, terkait suku bunga deposito, BTN tidak melakukan banyak perubahan dari akhir tahun lalu. Menurut Iman, potensi penurunan suku bunga akan semakin terbatas jika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR).

“Sejauh BI pertahankan 7DRRR, ya suku bunga deposito BTN juga akan tetap. Kalau ikut statement BI di mana ruang pelonggaran kebijakan moneter sudah terbatas, ya pastinya peluang penurunan bunga menjadi lebih terbatas juga.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top