Efisiensi Biaya Operasional dan Pencadangan Dorong Laba CIMB Niaga Tembus Rp3 Triliun

Di tengah lingkungan ekonomi yang menantang pada 2017 lalu, sejumlah bank mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan.
Ropesta Sitorus | 27 Februari 2018 21:19 WIB
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Tigor M Siahaan (tengah) bersama Direktur Lani Darmawan (kiri), dan Direktur Wan Razly meresmikan layanan The New Go Mobile, di Jakarta, belum lama ini - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis,com, JAKARTA – Di tengah lingkungan ekonomi yang menantang pada 2017 lalu, sejumlah bank mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan.

Salah satunya PT Bank CIMB Niaga Tbk. yang membukukan kenaikan laba bersih signifikan didukung oleh efisiensi beban biaya operasional dan pencadangan.

Presiden Direktur CIMB Niaga Tigor M. Siahaan mengatakan laba bersih konsolidasi (audited) CIMB Niaga sebesar Rp3,0 triliun per akhir Desember 2017, naik 43% secara year on year (yoy) dan menghasilkan earnings per share sebesar Rp118,5.

Sedikit berbeda, dalam laporan keuangan konsolidasi yang dipublikasikan, total laba bersih CIMB Niaga sebesar Rp2,98 triliun, tumbuh 43% dari capaian akhir tahun sebelumnya Rp2,08 triliun. Adapun, secara bank only, jumlah laba bersihnya mencapai Rp2,89 triliun, naik Rp848,75 miliar atau sebesar 41,6% (yoy).

Tigor menuturkan pertumbuhan laba bersih konsolidasi tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 2,6% (yoy) menjadi Rp12,4 triliun.

Selain itu, juga didukung peningkatan dari pendapatan nonbunga sebesar 18,8% (yoy) menjadi Rp3,4 triliun, serta penurunan pada komponen biaya pencadangan sebesar 18,0% (yoy).

Secara keseluruhan, perseroan masih mampu mencatatkan kenaikan pendapatan operasional sebesar 5,6% (yoy) sementara komponen biaya dapat ditekan sehingga hanya naik sebesar 2,1% (yoy).

“Peningkatan progresif dalam pengelolaan kualitas aset berhasil menurunkan biaya pencadangan sebesar 18,0% (yoy). Hasilnya, laba bersih tumbuh 43,0% (yoy) menjadi Rp3,0 triliun. Kami terus mengedepankan prinsip kehati-hatian terkait pertumbuhan kredit sejalan dengan perekonomian Indonesia dengan tetap memperhatikan kualitas aset sebagai prioritas utama,” katanya, Senin (26/2/2018).

Pada perkembangan lain, jumlah aset CIMB terus memupuk asetnya. Nilai aset secara bank only naik 11,4% menjadi Rp264,16 triliun sedangkan secara konsolidasi naik 10,2% menjadi Rp266,3 triliun per akhir tahun lalu.

Dengan nilai aset tersebut, lanjut Tigor, CIMB Niaga mempertahankan posisinya sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.

Kenaikan aset didukung penyaluran kredit dan pendanaan. Nilai kredit bruto yang disalurkan CIMB Niaga tumbuh 2,8% (yoy) mencapai Rp185,1 triliun.

Dilihat dari segmennya, wholesale banking menyumbang proporsi terbesar dari kredit yang disalurkan, dengan kredit jumlah korporasi sebesar Rp69,6 triliun atau sebesar 38%, dan kredit komersial sebesar Rp31,9 triliun (17%).

Adapun, porsi kredit konsumer mencapai 26% atau sebesar Rp48,6 triliun, diikuti kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp35,0 triliun (19%).

“Strategi yang kami ambil, yakni fokus pada kredit pemilikan rumah (KPR) maupun sektor UKM terus menampakkan hasil, dengan angka pertumbuhan masing-masing 12,0% dan 10,7% (yoy). Adapun kredit korporasi tumbuh 7,7% (yoy),” imbuhnya.

Di sisi pendanaan, ada kenaikan menjadi dana pihak ketiga (DPK) sekitar Rp9 triliun menjadi Rp189,3 triliun. Kenaikan DPK tersebut didorong pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) sebesar 8,4% (yoy) dan mengerek rasio CASA CIMB sebesar 171 bps menjadi 52,6%.   

Perseroan melakukan terobosan di sisi produk dan layanan perbankan digital, baik untuk nasabah ritel melalui Go Mobile versi terbaru, serta untuk nasabah nonritel melalui internet banking.

Per akhir Desember lalu, sebanyak 91,8% dari total transaksi nasabah telah dilakukan melalui layanan digital banking seperti CIMB Clicks, Go Mobile, ATM, dan Rekening Ponsel.

Pada perkembangan lain, pembiayaan yang disalurkan melalui Unit Usaha Syariah CIMB Niaga juga tumbuh 63,5% menjadi Rp16,7 triliun. Kenaikan itu dibarengi dengan pertumbuhan DPK sebesar 87,3% menjadi Rp19,9 triliun.

“Bisnis syariah terus meraih momentum yang positif dengan kontribusi sebesar 8,7% terhadap total pembiayaan CIMB Niaga, meningkat dari 5,6% pada tahun sebelumnya.” 

Upaya efisiensi yang dilakukan CIMB Niaga tergambar dari penurunan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang turun menjadi 83,48% dari posisi tahun sebelumnya 89,10%

Sejumlah rasio lainnya juga mengindikasikan perbaikan kinerja. Misalnya, rasio nonperforming loan (NPL) gross turun 14 basis poin dari 3,89% pada akhir 2016 menjadi 3,75%, meskipun NPL net masih stagnan di level 2,16%.

Posisi rasio kecukupan permodalan (capital adequacy ratio/CAR) CIMB Niaga per akhir tahun lalu naik tipis dari 17,96% menjadi 18,60%. Adapun untuk rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) cenderung turun dari 95,37% menjadi 94,67%.

Tigor berharap rasio NPL dapat membaik di tahun ini. “Ke depan, kami akan fokus memperbesar bisnis konsumer dan UKM, menjaga pengelolaan biaya secara disiplin, meningkatkan CASA serta memperkuat platform digital, dengan lebih berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga kualitas aset yang lebih baik.”

Tag : cimb niaga
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top