Fintech Masih Bisa Jaga NPL 0%, Seleksi Peminjam Diperketat

Sejumlah pelaku usaha teknologi finansial masih mampu menekan rasio kredit bermasalah atau NPL di bawah 1%. Dengan tren NPL yang meningkat, industri bakal memperketat seleksi peminjam.
Nindya Aldila | 11 Maret 2018 21:05 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah pelaku usaha teknologi finansial masih mampu menekan rasio kredit bermasalah atau NPL di bawah 1%. Dengan tren NPL yang meningkat, industri bakal memperketat seleksi peminjam.

Chief Investment Officer PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia Christopher Gultom mengatakan status pinjaman yang berlangsung saat ini masih lancar. Adapun non performing loan masih di angka 0%.

"Guna memperkuat mitigasi risiko, Akseleran bakal memperketat penyaringan profil peminjam. Kami masih dalam tahap pembicaraan dengan pihak asuransi kredit,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (11/3/2018).

Dia mengatakan hal tersebut juga sejalan dengan rencana penurunan suku bunga yang saat ini masih dipatok 18% -- 21%. Dia berharap bunga bisa ditekan di kisaran 15% -- 18% per tahun.

Saat ini Akseleran sudah menyalurkan pembiayaan hingga Rp29 miliar per Februari 2018. Sementara itu, jumlah anggota yang terdaftar di situs Akseleran mencapai 9.000 orang dengan total debitur dan investor masing-masing 75 dan 40 orang.

Sebelumnya, OJK mencatat NPL industri fintech naik dari 0,8% pada Desember 2017 menjadi 1,2% pada Januari 2018.

Sama halnya dengan Akseleran, PT Investree Radhika Jaya juga masih mencatatkan NPL sebesar 0% hingga sat ini. CEO Investree Adrian Gunadi mengatakan jumlah peminjam dengan keterlambatan di atas 10 hari hanya sekitar 3% dari total portofolio.

“Kenaikan NPL tidak bisa digeneralisasi karena sifatnya yang bisa mudah turun dan naik. Hal itu menjadi PR bagi masing-masing pelaku untuk menerapkan strategi penagihan. Dimulai dari segmentasi produk dan memastikan setiap pinjaman
creditable,” ujarnya belum lama ini.

Saat ini, perusahaan memiliki tim khusus untuk menangani setiap penagihan. Dengan demikian, kegiatan untuk memperluas pasar tidak akan terganggu dengan masalah meningkatnya NPL.

Di samping itu, setiap fintech juga perlu melakukan diversifikasi produk guna menghindari risiko kerugian yang terlalu besar ketika terjadi gagal bayar.

Sementara itu, CEO Modalku Reynold Wijaya mengakui adanya kenaikan NPL yang pada Desember 2017 sekitar 0,5% menjadi 0,8% pada awal Maret. Namun, menurutnya hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan karena batas maksimum NPL saat ini belum bisa dipastikan.

“Menurut saya itu rendahnya setengah mati. Di bawah 5% saja sudah bagus,” katanya.

Modalku mencatat telah menyalurkan lebih dari Rp1,22 triliun pinjaman modal usaha bagi kalangan UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia pada 2017.

Adapun sampai awal Maret, distribusi pinjaman khusus di Indonesia sudah mencapai Rp640 miliar atau tumbuh hampir sekitar 10 kali lipat dibanding tahun lalu.

“Kami sudah menyalurkan pinjaman Rp150 miliar selama dua bulan pada tahun 2018. Jadi perkiraan kami kuartal I/2018 mencapai Rp200 miliar lebih,” tuturnya.

Tag : fintech
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top