Pembiayaan Syariah Butuh Insentif

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memprediksi penyaluran pembiayaan syariah pada tahun ini akan stagnan. "Trennya mungkin sama, masih kurang lebih sekitar Rp30 triliun."
Reni Lestari | 14 Maret 2018 19:11 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah mencatatkan penurunan penyaluran pembiayaan hingga 9% pada tahun lalu, industri multifinance tak banyak berharap pada lini syariah tahun ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), realisasi pembiayaan syariah pada 2017 mencapai Rp28,75 triliun atau turun sekitar 9% dibandingkan dengan penyaluran pada 2016 sebesar Rp31,37 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memprediksi penyaluran pembiayaan syariah pada tahun ini akan stagnan. "Trennya mungkin sama, masih kurang lebih sekitar Rp30 triliun," kata Suwandi kepada Bisnis, Rabu (14/3/2018).

Meskipun geliat pembiayaan berkaitan erat dengan kondisi pasar, Suwandi mengakui adanya insentif regulasi juga sangat berpengaruh. Regulasi yang dimaksud adalah ketentuan down payment (DP) yang disamakan dengan pembiayaan konvensional, yang diatur dalam SEOJK NO.48 /SEOJK.05/2016 tentang Besaran Uang Muka (Down Payment/Urbun) Pembiayaan Kendaraan Bermotor untuk Pembiayaan Syariah.

Pembiayaan syariah, lanjutnya, untuk bisa tumbuh memerlukan insentif, atau dengan kata lain, kembali pada kondisi sebelum SEOJK tersebut terbit. "Pembiayaan syariah akan tumbuh kalau dia ada insentif yang spesial, dulu waktu DP-nya beda, dia kan tumbuhnya cepat," ujarnya.

Faktor lain, dari sisi sumber pendanaan, pembiayaan syariah belum mendapatkan akses yang luas, khususnya dari perbankan. Menurutnya, tidak banyak bank syariah yang bisa diandalkan untuk menjadi ceruk bagi pembiayaan syariah.

"Paling misalnya, Bank Muamalat. Bank Muamalat sendiri kan belum sehat. Yang membiayai pembiayaan syariah kan enggak banyak, sementara untuk melakukan pembiayaan syariah kan harus pakai [sumber] pembiayaan syariah," kata Suwandi.

Di samping dua faktor di atas, pembiayaan syariah harus diakui juga belum bisa menjangkau konsumen di seluruh daerah di Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong industri pembiayaan syariah untuk menggenjot pemasaran menjadi lebih masif dan luas.

Tag : multifinance
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top