Pelemahan Rupiah: Menteri PPN Bambang Brodjonegoro Bilang Perkuat Sektor Jasa

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir perlu diimbanhi dengan penguatan sektor jasa sebagai sumber devisa.
Stefanus Arief Setiaji | 14 Maret 2018 23:56 WIB
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P.S Brojonegoro menyampaikan sambutan pada Economic & Investment Outlook 2018 bertajuk Optimisme di Tahun Politik di Jakarta, Rabu (17/1/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir perlu diimbangi dengan penguatan sektor jasa sebagai sumber devisa.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan bahwa salah satu tantangan jangka pendek yang dihadapi Indonesia saat ini yaitu penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Menurut Bambang yang juga dikenal sebagai ahli ekonomi pembangunan, upaya memperkuat nilai tukar rupiah bukan hanya dilakukan melalui operasi moneter atau intervensi pasar dengan cadangan devisa.

Salah satu yang bisa dikedepankan adalah penguatan ekspor jasa sebagai sumber devisa.

Pariwisata atau tourisme termasuk kategori ekspor jasa yang bisa menghasilkan devisa dan memperkuat rupiah secara permanen.

“Jadi jangan hanya berhenti pada ekspor barang, ekspor jasa juga tidak kalah penting karena ekspor jasa mempunyai multiplayer effect yang luar biasa," ujarnya, Rabu (14/3/2018).

Menurut Bambang, di sisi current account, penguatan rupiah secara lebih fundamental bisa dilakukan dari sisi capital account yang sifatnya hot money, portofolio, dan Foreign Direct Investment (FDI).

Dalam jangka pendek yang harus diperhatikan adalah portofolio karena langsung berdampak terhadap Surat Utang Negara (SUN), pasar modal dan ujungnya terhadap rupiah.

Berikutnya dari komponen pertumbuhan seperti konsumsi. Sejauh ini konsumsi masih merupakan pendorong perekonomian yang dominan sebesar 54,3% terhadap PDB 2017. Karena porsinya yang signifkan pada PDB, perlambatan pada konsumsi memiliki dampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, yang juga perlu ditingkatkan adalah kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi yang sampai pada 2013 hanya mencapai 3% atau lebih. Padahal pada 2011, saat perekonomian tumbuh tinggi 6,5% kontribusi konsumsinya di atas 3,5% . Tapi setelah 2013, kontribusi pertumbuhan dari konsumsi berada di bawah 3%.

Bambang mengatakan ada korelasi antara pertumbuhan konsumsi dengan komoditas.

Saat harga komoditas booming pada 2013, pertumbuhan ekonomi mencapai 6%-6,5%.

"Saat itu, konsumsi pernah tumbuh luar biasa di atas 5,2%-5,3%. Tapi faktor itu hilang seiring dengan berakhirnya commodity boom," katanya.

Saat ini, tambah Bambang, memang ada perbaikan harga komoditas, CPO, batu bara, tetapi tentunya bukan seperti commodity boom sebagaimana beberapa tahun lalu.

Oleh karena itu, kontribusi atau peran strategis konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi yang besar dapat diganti oleh investasi atau ekspor.

"Cuma masalahnya, ekspor kita masih sangat bergantung kepada sumber daya alam seperti batu bara dan CPO," jelasnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top