Utang Luar Negeri Masih di Posisi Aman

Ekonom berpendapat utang luar negeri pemerintah masih dalam posisi yang aman karena masih memiliki solvency yang mampu untuk dibayarkan.
M. Richard | 16 Maret 2018 11:47 WIB
Alokasi pinjaman luar negeri. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom berpendapat utang luar negeri pemerintah masih dalam posisi yang aman karena masih memiliki solvency yang mampu untuk dibayarkan.

Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro menjelaskan, solvency adalah kemampuan suatu institusi untuk membayarkan utangnya. Semantara itu, dalam konteks utang negara, solvency adalah selisih dari bunga utang yang dibayarkan dengan pertumbuhan gross domestic bruto (GDP) nominal.

"Jadi bunga utang kita masih di kisaran 7% dan GDP nominal kita adalah 5% ditambah dengan inflasi kita 3,5%, jadi masih bisa dibayar lah," katanya kepada Bisnis, Jumat (16/3/2018).

Oleh karena itu, Ari mengatakan pemerintah harus menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap dalam level yang aman. Menurutnya, penggunaan utang selama ini sudah sangat baik karena ditransfer ke sektor yang produktif, yakni untuk membangun infrastruktur. sekadar informasi, pinjaman luar negeri yang disalurkan ke sektor banguan mencapai US$7,75 miliar, atau 13,9% dari US$55,66 miliar.

Selain itu, dia mengatakan, porsi utang yang dimiliki pemerintah saat ini (29,1% per GDP) lebih rendah dari yang telah di tetapkan dalam Undang-Undang (60% per GDP).

Hal yang paling terpenting menurut Ari adalah sejauh ini pemerintah telah berhasil menjaga kredibilitasnya, sehingga utang diambil dengan bunga lebih rendah dan kreditor juga percaya piutang yang diberikan akan tetap terbayarkan.

Hal tersebut juga yang menyebabkan negara seperti Jepang dan Amerika berani meminjam utang dengan jumlah besar.

"Utang Jepang itu lebih dari dari dua kali GDP-nya, dan utang amerika juga lebih dari GDP-nya," imbuh Ari.

Mengenai penyaluran utang luar negeri yang kurang tersalurkan ke sektor manufaktur, Ari mengatakan hal tersebut merupakan sesutau yang normal. Sektor tersebut bukan sektor yang mengandalkan utang sebagai pondasi pembiayaan investasinya.

"Memang normal, sektor manufaktur lebih mengandalkan laba tertahan dan modal ventura, mereka hanya mengunakan utang untuk membiayai pengeluaran jangka pendeknya."

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, utang yang tersalurkan ke pertanian, peternakan, perhutanan, perikanan dan industri pengolahan hanya US$1,69 miliar, atau 3,1% dari total pinjaman luar negeri US$55,66 miliar.

Tag : utang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top