Kurangi Defisit Dagang, Pemerintah Sarankan Pembentukan Forum Diskusi RI-China

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah menilai perlu dibentuk forum diskusi atau semacam working group on trade antara Indonesia dan China guna melanjutkan tren perbaikan defisit perdagangan antarkedua negara tersebut.
Ipak Ayu H Nurcaya | 21 Maret 2018 18:44 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) duduk berdampingan dengan Presiden China Xi Jinping saat melakukan dialog antara pimpinan negara ekonomi dengan APEC Business Advisory Council (ABAC) di Da Nang, Vietnam, Jumat (10/11). - ANTARA/Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menilai perlu dibentuk forum diskusi atau semacam working group on trade antara Indonesia dan China guna melanjutkan tren perbaikan defisit perdagangan antarkedua negara tersebut.

Pasalnya, tahun lalu total perdagangan Indonesia-China sebesar US$58,8 miliar dengan defisit dagang yang dialami Indonesia sebesar US$12,7 miliar. Defisit tersebut lebih rendah daripada periode 2016 dengan nilai US$14,01 miliar dari total perdagangan US$47,6 miliar.

Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Asia Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Bobby Chriss Siagian mengatakan, meski dari data menunjukkan angka masih defisit tetapi terus mengecil secara berkelanjutan.

Untuk itu, pemerintah Indonesia mengusulkan agar dibentuk working group on trade. "Kami sudah usulkan hal tersebut, selanjutnya kami berharap China bisa merespons ini," katanya dalam Forum Bisnis Pengusaha Indonesia-China di Hotel Borobudur, Rabu (21/3/2018).

Bobby mengemukakan, working group on trade akan diperuntukan membahas upaya mempertahankan penurunan defisit neraca perdagangan dan meningkatkan ekspor kelapa sawit termasuk biodiesel.

Tak hanya itu, forum tersebut diharapkan dapat menjadi ajang diskusi khususnya kerja sama perlatihan di bidang promosi perdagangan, penyesuaian standar untuk memasukkan produk buah dan sayur Indonesia ke China, serta perluasan akses pasar produk prioritas Indonesia di China.

Bobby menambahkan, saat ini produk utama ekspor Indonesia masih didominasi produk pertambangan dan kelapa sawit. Namun, belakangan produk sarang burung walet dan manggis Indonesia sudah bisa diterima baik di China.

Hal ini tentu menjadi berita yang menggembirakan bagi Indonesia dan pemicu produksi lebih baik ke depan.

Atase Kedubes Tiongkok untuk Indonesia Bidang Ekonomi dan Komersial Wang Li Ping sepakat masih banyak hal yang perlu dilakukan bersama untuk meningkatkan ekspor Indonesia karena perdagangan Indonesia dan China masih di bawah perdagangan China dengan Malaysia dan Thailand.

Namun, dirinya optimistis dengan peningkatan kapasitas dan kualitas yang ada di Indonesia tahun ini dapat meningkat.

Li Ping mengatakan, apalagi di China sejumlah komoditas Indonesia memang sudah diterima baik, seperti kopi dan produk furnitur kayu jati. Dirinya pun memastikan di ruang kantornya sudah menggunakan kayu jati yang langsung dikirim dari Indonesia.

"Jadi untuk mendorong peningkatan perdagangan, pemerintah dan pengusaha Indonesia harus memanfaatkan setiap ajang promosi dagang yang diadakan di seluruh dunia, termasuk di China," ujarnya.

Tag : defisit perdagangan
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top