Kenaikan Suku Bunga The Fed Tak Akan Berdampak Buruk Bagi Indonesia

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat kenaikan suku bunga The Fed tidak akan berdampak buruk pada perekonomian Indonesia.
M. Richard | 22 Maret 2018 12:53 WIB
The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat kenaikan suku bunga The Fed tidak akan berdampak buruk pada perekonomian Indonesia.

Berdasarkan berita Reuters, otoritas Moneter Amerika memutuskan untuk menaikkan suku bunga The Fed menjadi 1,75% dari 1,5%, serta menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya menjadi 2,7% dari 2,5.

Selain itu, The Fed memprediksi tingkat pengangguran  turun dari 3,9% menjadi 3,8. Dikarenakan orang lebih banyak bekerja, The Fed memprediksikan inflasi akan terkerek naik dari 1,9% mendekati 2,0%.

"Ya sebetulnya kan apa yang disampaikan the Fed sudah diperkirakan market sejak lama," kata Lana kepada Bisnis, Kamis (22/3/2018).

Menurutnya, dengan keputusan tersebut market internasional dan domestik agaknya bisa lebih tenang.

"Lagi pula kita sudah lihat IHSG kita sudah rebound, dolar juga sudah agak turun [meskipun belum kembali ke titik fundamentalnya]," imbuh Lana.

Bahkan, katanya, pasar saham Filipina dan India juga mulai menunjukkan perbaikan.

Menurut Lana, forecast pertumbuhan ekonomi yang lebih baik tersebut dikarenakan likuiditas besar yang Amerika miliki.

Berdasarkan data trading economics, total GDP Amerika pada 2016 mencapai US$18.624,48 miliar, atau Rp251,02 triliun (dengan kurs Rp13.750 per US$).

"Sehingga efek dari perceptan ekonominya baru bisa terasa sekarang," imbuhnya.

Di samping itu, menurut Lana, pertumbuhan ekonomi Amerika tidak serta merta memberi efek negatif pada ekonomi domestik.

Justru sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Amerika dapat menstimulai pertumbuhan negara berkembang lainnya seperti Indonesia.

Namun, lanjutnya, hal yang benar-benar akan mengganggu perekonomian domestik adalah proteksionisme Amerika.

"Cuma kita tidak tahu nih, apakah itu cuma bluffing-nya Presiden Trump," kata Lana.

Ia menyebutkan, ketika kenaikan tarif impor baja diimplementasikan, Amerika malah membuat pengecualian impor baja dari Meksiko dan Kanada.

"Karena memang baja di Amerika berasal dari Meksiko dan Kanada 60%, jadi Amerika pun tidak bisa sepenuhnya proteksionis, produksi baja tidak bisa dalam satu malam," imbuhnya.

Namun, penerapan proteksionis Amerika kepada China akan berdampak buruk pada ekonomi Indonesia, karena China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Berdasarkan data kementarian perdagangan, pada 2017 nilai total perdagangan nonmigas dengan Amerika mencapai $25,09 miliar, sedangkan perdagangan nonmigas dengan China mencapai $56,82 miliar.

Tag : Kebijakan The Fed
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top