KENAIKAN BUNGA THE FED: Pemulihan Ekonomi Amerika Serikat Berdampak Positif Bagi Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA -- Lembaga kajian ekonomi CORE Indonesia (Center of Reform on Economics/CORE) berpendapat kenaikan suku bunga The Fed merupakan penegasan ekspektasi pemulihan ekonomi Amerika Serikat on the track. Secara global, pemulihan ekonomi AS ini akan berdampak positif bagi ekonomi negara-negara lain, termasuk Indonesia.
M. Richard | 22 Maret 2018 16:54 WIB
the Federal Reserve di Washington D.C. - Ilustrasi/en.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA -- Lembaga kajian ekonomi CORE Indonesia (Center of Reform on Economics/CORE) berpendapat kenaikan suku bunga The Fed merupakan penegasan ekspektasi pemulihan ekonomi Amerika Serikat on the track. Secara global, pemulihan ekonomi AS ini akan berdampak positif bagi ekonomi negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Pieter Abdullah Redjalam mengatakan kenaikan suku bunga The Fed menunjukkan perbaikan ekonomi dunia, dan akan mendorong laju volume perdagangan global dan kenaikan harga komoditas, dan pada akhirnya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia.

Berdasarkan berita Reuters, otoritas moneter Amerika Serikat memutuskan untuk menaikkan suku bunga The Fed menjadi 1,75% dari 1,5%, serta menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya menjadi 2,7% dari 2,5%.

Selain itu, The Fed memprediksi tingkat pengangguran AS turun dari 3,9% menjadi 3,8%. Dengan lebih banyak orang bekerja, The Fed memprediksikan inflasi akan tergerak naik dari 1,9% mendekati 2,0%.

"Sebenarnya perbaikan ekonomi di Amerika, Eropa dan Jepang sudah diperkirakan sejak akhir tahun lalu dan banyak juga yang berharap perekonomian dunia akan membaik pada tahun ini," katanya kepada Bisnis, Kamis (22/3/2018).

Pieter menjelaskan, perekonomian dunia pada 2018 diperkirakan tumbuh 3,9%, atau naik dibandingkan dengan 3,7% pada tahun lalu.

Pieter memprediksi, dengan naiknya suku bunga The Fed, BI berkemungkinan besar untuk menaikkan suku bunganya. Hal tersebut dilakukan guna mempertahankan interest rate differensial guna dan menjaga capital flows ke market Indonesia.

"Besar kemungkinan BI pada RDG hari ini menaikkan suku bunga acuan BI 7DRR setidaknya 25 bps," katanya.

Berdasarkan berita Reuters, Bank Rakyat Tiongkok pun telah menaikkan suku bunga 7-days repo sebesar 5 basis poin.

 

Selain itu, menurut Pieter, dalam jangka pendek rupiah akan kembali mengalami tekanan. "Namun sampai berapa jauh rupiah akan melemah akan bergantung bagaimana pasar merespons kebijakan suku bunga BI nantinya," kata pieter.

Artinya, meskipun ada tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek, tetapi hasilnya terhadap nilai tukar rupiah belum tentu besar dan siginifikan.

 

Tag : the fed rate
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top