Saatnya Asia Ambil Momentum di Tengah Perang Dagang China-AS

Asia akan tetap menjadi ladang pertumbuhan ekonomi favorit bagi pebisnis dan investor meskipun tensi perang dagang antara China-AS semakin tinggi.
Dwi Nicken Tari | 28 Maret 2018 10:16 WIB
Bendera AS dan China - newline

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang antara Asia akan tetap menjadi ladang pertumbuhan ekonomi favorit bagi pebisnis mau pun investor, meskipun tensi perang dagang antara China-AS semakin tinggi.

Hal itu disampaikan oleh Economic Development Board (EDB) Singapura Beh Swan Gin pada Selasa (27/3/2018). Dia mengungkapkan bahwa Asia adalah kawasan yang masih beruntung dalam situasi sekarang ini.

“Singapura sangat beruntung, negara-negara di Asia secara umum juga sangat beruntung karena kita berada dalam mesin pertumbuhan,” katanya di dalam wawancara dengan Bloomberg TV, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (28/3/2018).

Beh menambahkan meskipun kawasan Asia akan terisolasi dengan meningkatnya tensi perang dagang,  Asia dapat membuktikan yang terjadi justru hal sebaliknya. 

Beh melihat beberapa alasan kawasan Asia tetap bergairah, yaitu tumbuhnya permintaan dari China, Asia Tenggara, dan India. Sementara itu Jepang, Australia, dan New Zealand juga masih akan mendukung perdagangan yang solid lewat pakta perdagangan bebas regional seperti TPP yang telah ditandatangani pada 8 Maret 2018.

Baca juga: Perang Dagang AS-China: Wapres Kalla Bilang Indonesia Bisa Manfaatkan

Adapun, tensi perang dagang semakin meningkat pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump menjanjikan tarif sebesar US$60 miliar untuk produk-produk impor asal China, sebelumnya dia juga telah menandatangani tarif baja dan aluminiun. 

Kemudian, China pun tak mau kalah dan merespons dengan memberikan tarif resiprokal sebesar US$3 miliar untuk produk-produk impor AS.

Oleh karena itu, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer langsung bertolak ke Beijing untuk melakukan perundingan dengan pemerintah Negeri Panda.

Beh memandang langkah itu hanya akan semakin meluaskan "lapangan bermain" kedua raksasa itu.

“Masih terlalu cepat untuk mengatakan pertentangan ini akan berakhir dengan perang dagang,” tutur Beh sambil menambahkan bahwa sementara ini perusahaannya menggunakan pendekatan “wait and see”.

Bagi Singapura, memburuknya kontak dagang AS-China tersebut dapat membahayakan arah pertumbuhan ekonomi tahun ini setelah perdagangan global tahun lalu melambungkan perekonomian global ke laju tercepat ekspansinya sejak 2013.

Baca juga: Perang Dagang AS-China: Wapres Kalla Bilang Indonesia Bisa Manfaatkan

Singapura merupakan negara yang sangat bergantung terhadap perdagangan, menurut data Bank Dunia yaitu sebanyak 212% dari produk domestik bruto (PDB)-nya pada 2016. Sementara rata-rata dunia hanya 42%. China merupakan mitra dagang utama Singapura dengan nilai 14,2%, sementara AS menjadi mitra keempat terbesar di level 8,3%.

Adapun Beh tidak ingin memperlihatkan adanya ancaman bagi daya tarik Asia dalam jangka panjang untuk perusahaan.

“Sebagian besar semuanya ada di sini sekarang karena pertumbuhannya di Asia dan kesempatannya di Asia. Hal itu tidak akan pergi, dan diperlukan untuk menjadi Asia untuk mendapatkan keuntungan tersebut,” tutur Beh.(Bloomberg/Dwi Nicken Tari)

Tag : asia, singapura, perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top