BI: Perbaikan Rating Moody's Hasil Konsistensi Pemerintah dan Bank Sentral

Bank Indonesia (BI) menilai perbaikan rating kredit Indonesia oleh Moodys Investor Service (Moodys) sebagai upaya bank sentral dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.
Hadijah Alaydrus | 13 April 2018 10:23 WIB
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menilai perbaikan rating kredit Indonesia oleh Moody’s Investor Service (Moody’s) sebagai upaya bank sentral dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan dengan perbaikan rating ke level Baa2 oleh Moody’s, kini Indonesia telah diakui oleh empat lembaga rating internasional untuk berada pada satu tingkat lebih tinggi dari level Investment Grade sebelumnya. Rating tersebut adalah level tertinggi yang pernah dicapai oleh Indonesia dari Moody’s.

"Pencapaian ini merupakan suatu prestasi besar di tengah masih berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di kawasan," paparnya dalam keterangan resmi, Jumat (13/4/2018).

Hal ini dapat terwujud melalui konsistensi upaya bank sentral bersama dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Dalam kaitan ini, Agus mengungkapkan BI akan terus mewaspadai peningkatan risiko global dan mengoptimalkan bauran kebijakan termasuk kebijakan makroprudensial dan pendalaman pasar keuangan dalam menjaga stabilitas perekonomian yang menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif.

Lembaga pemeringkat Moody’s meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil pada 13 April 2018. Dalam siaran persnya, Moody’s menyatakan faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut adalah kerangka kebijakan yang kredibel dan efektif yang dinilai kondusif bagi stabilitas makro ekonomi.

Peningkatan cadangan devisa dan penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati tersebut memperkuat ketahanan dan kapasitas Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal.

Di sisi fiskal, pemerintah dinilai mampu menjaga defisit fiskal di bawah batas 3% sejak diberlakukan pada 2003. Defisit yang dapat dipertahankan di level rendah dan didukung oleh pembiayaan yang bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan.

Di sisi moneter, BI telah menunjukkan rekam jejak dalam memprioritaskan stabilitas makro ekonomi. Penerapan kebijakan nilai tukar fleksibel dan koordinasi kebijakan yang lebih efektif antara BI dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dinilai mampu menjaga inflasi di level yang cukup rendah dan stabil.

BI juga semakin aktif menggunakan instrumen makroprudensial dalam menghadapi gejolak. Sementara itu, perbaikan posisi eksternal dan bertambahnya cadangan devisa memperkuat ketahanan terhadap potensi gejolak eksternal.

Tag : ekonomi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top