Perang Dagang Picu Kenaikan Ekspor Besi dan Baja Indonesia ke AS

Perang dagang yang diluncurkan Amerika Serikat tidak sepenuhnya merugikan Indonesia. Buktinya, ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam tersebut naik 21,2% atau US$303,8 juta menjadi US$1,66 miliar pada Maret dari sebelumnya US$1,37 miliar pada Februari.
Hadijah Alaydrus | 16 April 2018 16:20 WIB
Industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Perang dagang yang diluncurkan Amerika Serikat tidak sepenuhnya merugikan Indonesia. Buktinya, ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam tersebut naik 21,2% atau US$303,8 juta menjadi US$1,66 miliar pada Maret dari sebelumnya US$1,37 miliar pada Februari.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto menuturkan kenaikan ekspor tersebut dipicu oleh kenaikan komoditas alas kaki sebesar 46,07% dan barang rajutan sebesar 26,29%. Selain itu, kenaikan signifikan terjadi pada ekspor besi dan baja. Nilai absolut ekspor besi baja Indonesia mencapai US$35 juta pada Maret 2018, meningkat luar biasa dibandingkan Februari yang mencapai US$2,13.

"Perang dagang berpengaruh atau tidak, mungkin jawaban saya ada yang berpengaruh dan ada yang tidak. Kesimpulannya terlalu cepat kalau sekarang. Sekadar gambaran, AS menetapkan bea masuk untuk besi dan baja dari China, Maret justru ekspor besi dan baja Indonesia signifikan meningkat dari US$2,13 juta menjadi US$35 juta," papar Kecuk, Senin (16/4/2018).

Di sisi lain, dia menuturkan crude palm oil (CPO) Indonesia cukup terpukul dari hambatan dagang yang diluncurkan beberapa negara.

Pada maret 2018, ekspor CPO Indonesia ke India menurun kalau dibanding maret 2017. Hal ini disebabkan karena india menerapkan bea masuk hingga 44%.

"Meskipun pemerintah sedang berupaya negosiasi dan beberapa usaha lainnya. CPOnya turun 22,95%, liquid fraction oil juga turun," ungkap Kecuk.

Tidak hanya CPO ke India, Ekspor CPO Indonesia ke Pakistan dan bangladesh juga mengalami penurunan.

Dengan melihat data ini, Kecuk berharap masalah hambatan dagang bagi CPO Indonesia tidak terjadi melebar. "Tapi kalau untuk CPO memang perlu banyak upaya, karena porsi ekspor kita besar."

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan pertumbuhan ekspor tahun 2018 akan mencapai 11% dengan komoditas yang mendominasi yaitu komoditas kelapa sawit dan derivatifnya, serta kopi.

"Hambatannya banyak. Hambatannya tarif, non tariff barriers. Satu-satu nanti [diselesaikan]," tegas Enggar selepas Rakorpusda, Jumat (13/4).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, bps

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top