Perang Dagang AS-China, Peluang Ekspor Komoditas dari Indonesia Makin Terbuka

Kenaikan signifikan ekspor besi dan baja ke Amerika Serikat per Maret 2018 pasca penerapan bea masuk terhadap produk China membuka peluang bagi Indonesia untuk mendorong ekspor komoditas lainnya ke pasar Negeri Paman Sam tersebut.
Hadijah Alaydrus | 16 April 2018 18:06 WIB
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis - Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Kenaikan signifikan ekspor besi dan baja ke Amerika Serikat per Maret 2018 pasca penerapan bea masuk terhadap produk China membuka peluang bagi Indonesia untuk mendorong ekspor komoditas lainnya ke pasar Negeri Paman Sam tersebut.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual melihat masih banyak peluang produk lain untuk masuk ke pasar Amerika Serikat (AS) di tengah kondisi perang dagang antara dua ekonomi besar tersebut.

"Saat ini mereka mungkin masih negosiasi, sebelum mereka mencapai kesepakatan, Indonesia bisa memanfaatkan celah ini untuk mendorong ekspor baja," ungkap David, Senin (16/4/2018).

Saat ini, AS menerapkan bea masuk yang cukup tinggi terhadap pipa baja China. Hal serupa dibalas oleh China yang menerapkan bea masuk cukup tinggi untuk produk baja dari AS. Melihat kondisi ini, dia menilai Indonesia bisa memanfaatkan peluang untuk meningkatkan ekspor bajanya ke AS.

Jika peningkatan ekspor besi dan baja berlanjut, David mengatakan posisi neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan hanya mencetak surplus tipis tahun ini dapat terdongkrak dengan adanya perang dagang.

"Kalau berlanjut, Indonesia bisa memanfaatkan produk-produk yang AS tidak bisa impor dari China dan bisa beralih ke kita," papar David.

Di sisi lain, Indonesia harus mencari produk ekspor andalan yang lebih berkelanjutan untuk mengkompensasi produk ekspor kelapa sawit kita yang dihantam di India atau Eropa.

Sementara itu, Senior VP Kepala Riset Ekonomi UOB Enrico Tanuwidjaja mengungkapkan perang dagang China dan AS ini memiliki nilai positif dan negatifnya. Sekalipun ada peningkatan ekspor besi dan baja pada Maret 2018, Enrico lebih mengkhawatirkan efek lanjutannya jika AS menutup ekspor 1.300 produk elektronik dari China yang melanggar hak paten.

"Kalau ini kena, permintaan dari China terhadap bahan material dari Indonesia bisa menurun," ujar Enrico saat dihubungi Bisnis.

Padahal, ekspor besi dan baja Indonesia ke China jauh lebih besar pangsa pasarnya dibandingkan Indonesia ke AS. Total ekspor besi dan baja Indonesia hanya berkisar 2%. Dari angka tersebut, Enrico mencatat pangsa pasar ekspor komoditas itu kurang dari 10%. Sementara itu, pangsa pasar China sekitar 60%.

"Net-nya, kalau menurut saya tetap negatif [dampak perang dagangnya]," tegas Enrico. Jika perang dagang ini berlanjut, pebisnis akan takut berinvestasi. Alhasil, pebisnis akan berburu dolar AS.

Permintaan dolar AS yang meningkat di luar permintaan riil akan berdampak buruk bagi rupiah. "Jadi bukan dampak riilnya saja, tetapi lebih ke dampak risk aversion di market." ujar Enrico.

Tag : ekspor, perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top