Dirjen Anggaran: Silpa Rp64 Triliun Tidak Besar

Askolani memahami jika banyak pihak menginginkan Silpa sama dengan Rp0, yang mana menunjukkan tidak adanya pembiayaan anggaran yang berlebihan.
M. Richard | 17 April 2018 16:09 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara (kiri) berbincang dengan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani, di sela-sela diskusi Indonesia Credit Briefing di Jakarta, Kamis (23/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah menilai sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) sampai dengan Maret 2018 yang mencapai Rp64 triliun relatif tidak besar. Adapun, Silpa adalah selisih antara surplus/defisit anggaran dengan pembiayaan netto. Dalam penyusunan APBD angka SILPA ini seharusnya sama dengan nol.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran sepanjang 2018 sebesar Rp85,7 triliun, sedangkan penerimaan pembiayaan (pembiayaan netto) sebesar Rp149,7 triliun, maka Silpa-nya adalah Rp64 triliun. "Realisasi tahun ini sudah bagus, kalau tahun lalu sampai Rp85,7 triliun," kata Direktur Jenderal Anggaran Askolani kepada Bisnis.com, Selasa (17/4/2018).

Askolani memahami jika banyak pihak menginginkan Silpa sama dengan Rp0, yang mana menunjukkan tidak adanya pembiayaan anggaran yang berlebihan.

Namun, jika melihat dari struktur perhitungan SILPA diatas, katanya, Silpa tahun ini lebih dikontibusikan oleh penerimaan pajak, bea cukai, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang meningkat. "Jadi, bukan karena pembiayaan dengan utang, atau belanja yang meningkat," imbuhnya.

Selain itu, Askolani mengatakan, Silpa surplus juga masih diperlukan. Silpa bisa digunakan sebagai cadangan dana bagi pemerintah untuk mengantisipasi kebutuhan belanja yang naik. "Kan tetap harus ada cadangan bila ada kebutuhan belanja kementerian/ lembaga yang mendadak naik," imbuhnya.

Menanggapai hal tersebut, Ekonom Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengeapresiasi kerja pemerintah yang telah dapat menekan SILPA ke level yang lebih baik, menunjukkan adanya perbaikan manajemen financing oleh pemerintah.

Namun, Silpa senilai Rp64 triliun juga bukan angka yang tergolong aman, karena angka tersebut menunjukkan bahwa masih adanya kelebihan financing terhadap defisit anggran. "Apalagi sebagian besar dari financing ini masih berasal dari utang, sehingga silpa yang besar menunjukkan adanya utang yang tidak perlu," katanya.

Disisi lain, Eric mengakui, sulitnya menetapkan berapa besaran financing yang diperlukan, karena defisit anggaran sangat dinamis dan susah diperkirakan dari awal tahun.

Dia berharap, pemerintah dapat terus meningkatkan kemampuan manajemen financing-nya, sehingga surplus SILPA dapat terus dikurangi dengan mengerem utang baru, dan menyesuaikan dengan pergerakan defisit anggaran.

Tag : silpa, Rapbn 2018
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top