PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR: BUMN Bidik Dana di Luar Obligasi Domestik

Sejumlah perseroan pelat merah bakal menempuh alternatif pendanaan di luar obligasi domestik seiring dengan adanya momentum kenaikan peringkat surat utang dari Moodys Investor Service.
M. Nurhadi Pratomo | 18 April 2018 06:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah perseroan pelat merah bakal menempuh alternatif pendanaan di luar obligasi domestik seiring dengan adanya momentum kenaikan peringkat surat utang dari Moody’s Investor Service.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro menjelaskan bahwa penerbitan obligasi perseroan pelat merah mencapai Rp110 triliun pada 2017. Jumlah tersebut dinilai terlalu banyak dan mendapat keluhan dari korporasi swasta.

Dia menyebut tahun ini BUMN akan berbagi dalam penerbitan obligasi domestik. Oleh karena itu, ditargetkan emisi dari perseroan pelat merah hanya mencapai Rp90 triliun pada 2018.

Dengan demikian, sambungnya, pemerintah mendorong BUMN untuk mencari alternatif skema pendanaan lain seperti penawaran umum perdana saham (IPO) anak usaha, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), penerbitan obligasi global, hingga penerbitan obligasi global berdenominasi rupiah atau obligasi komodo.

Akan tetapi, Aloysius menilai saat ini kondisi pasar sedang kurang baik untuk penerbitan obligasi komodo. Padahal, terdapat beberapa BUMN yang tengah mempertimbangkan penerbitan obligasi komodo antara lain PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Kendati demikian, dia menyebut rencana penerbitan obligasi global juga tengah dipersiapkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Rencananya, perseroan ingin menerbitkan obligasi global hingga Rp20 triliun.

Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ahmad Bambang mengatakan saat ini sedang memroses penerbitan obligasi global untuk PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero). Eksekusi akan dilakukan begitu izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dikantongi.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang dilansir Senin (9/4), total emisi obligasi domestik oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp11,92 triliun pada kuartal I/2018. Jumlah tersebut tumbuh signifikan 76,59% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

KSEI mencatat total emisi obligasi domestik BUMN pada kuartal I/2017 hanya sebesar Rp6,75 triliun. Aksi korporasi tersebut dilakukan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan jumlah pokok Rp1,65 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Rp5,10 triliun.

Kedua perseroan pelat merah itu kembali menempuh langkah serupa pada triwulan pertama tahun ini. Waskita Karya dan Bank Rakyat Indonesia telah melakukan emisi dengan jumlah pokok masing-masing Rp3,45 triliun dan Rp2,44 triliun.

Emisi obligasi dengan jumlah pokok terbesar pada triwulan pertama 2018 kategori BUMN ditempati oleh PT Pegadaian (Persero) dengan Rp3,50 triliun. Manajemen perseroan berencana menambah emisi obligasi syariah dengan jumlah pokok Rp1 triliun-Rp 2 triliun sebelum berakhirnya semester I/2018.

Saat dimintai konfirmasi, Corporate Secretary Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Faruq Hidayat mengatakan perseroan akan mengeksekusi penerbitan obligasi global pada semester I/2018. Jumlah pokok yang diemisi mencapai US$1 miliar.

Akan tetapi, Faruq menyebut saat ini masih menunggu keluarnya izin Penerbitan Komersial Luar Negeri (PKLN). Namun, proses persiapan terus dilakukan mengingat perseroan juga telah menunjuk underwriter dan join lead underwriter.

MOMENTUM

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal merangkap Anggota Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan momentum kenaikan peringkat rating oleh Moody’s akan berimbas positif bagi Indonesia. Secara khusus, hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh korporasi untuk menggalang pendanaan domestik maupun global.

“Dapat dimanfaatkan korporasi karena ratingnya menjadi lebih baik sehingga cost of fund turun,” jelasnya.

Sebagai catatan, Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang Perusahaan Listrik Negara, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menjadi Baa2. Langkah tersebut sejalan kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi Baa2.

Selanjutnya, peringkat utang Perusahaan Gas Negara juga naik mengikuti induk, PT Pertamina (Persero), dari Baa3 menjadi Baa2.

Adapun, Moody’s menegaskan kembali peringkat Pelindo III selaku penerbit serta surat utang senior tanpa jaminan pada Baa3, dan ba1 untuk baseline credit assessment-nya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, bumn

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top