Atasi Kemiskinan dengan Pertumbuhan Ekonomi Lestari

Genap lima tahun Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia merintis jalan untuk pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang lestari, mencatat sejumlah capaian termasuk reduksi emisi gas rumah kaca.
Mia Chitra Dinisari | 18 April 2018 12:47 WIB
Caption diskusi panel: Kiri-kanan: Syamsul Widodo (Dirjen PPMD Kemendesa PDTT), Jong Tjien Alimin (Musim Mas Smallholder Project Coordinator), Zumrotin Susilo (Anggota Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia), Chairul Machsul (Asisten Daerah Ekonomi Pembangunan, Provinsi NTB), Indah Putri Indriyani (Bupati Luwu Utara), Ana (Bappenas) - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Genap lima tahun Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia merintis jalan untuk pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang lestari, mencatat sejumlah capaian termasuk reduksi emisi gas rumah kaca.

“Hari ini kami ingin berbagi pembelajaran dari Proyek Kemakmuran HIjau yang diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dari 1 juta metrik ton per tahun, atau setara dengan emisi 212 ribu mobil tiap tahun. Keberhasilan ini didukung oleh model-model investasi yang beragam serta melibatkan para pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah dan pusat, hingga pihak swasta, ujar Direktur Eksekutif MCA-Indonesia, Bonaria Siahaan dalam siaran persnya.

Dia menjelaskan perencanaan Tata Guna Lahan Partisipatif diterapkan agar ada kepastian tata ruang bagi masyarakat, pemerintah, maupun investor. Hibah Kemitraan Kakao Lestari, Hibah Kemitraan Kemakmuran Hijau, dan Hibah Pendanaan Bersama Energi Terbarukan merupakan wujud pelibatan swasta dan organisasi masyarakat sipil untuk bersama-sama mendanai dan melaksanakan upaya peningkatan produktivitas, melalui praktik pertanian berkelanjutan dan penggunaan energi terbarukan. 

Hibah energi Terbarukan untuk Komunitas di empat lokasi terpencil menggerakkan sektor swasta untuk berinvestasi, serta memberdayakan masyarakat sebagai pemegang saham mayoritas sekaligus operator fasilitas pembangkit listrik tersebut. Hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat memberdayakan komunitas di tingkat tapak untuk mengelola sendiri sumber daya alam di sekitarnya.

Adapun Hibah Pengetahuan Hijau berinvestasi untuk proyek yang mengumpulkan dan menyebarkan pengetahuan mengenai perekonomian berkelanjutan.

Dalam lima tahun ini, Perencanaan Tata Guna Lahan Partisipatif telah diterapkan di 40 kabupaten, serta 363 desa difasilitasi untuk memetakan sumber daya dan batas desanya. 12,3 MW listrik energi terbarukan menerangi 8.808 rumah dan fasilitas umum di daerah terpencil. 

Dilahan gambut, 15.832 hektare telah direstorasi dan 232 sekat kanal sudah dibangun. 197.906 hektare lahan telah direhabilitasi melalui pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. 121.143 petani kakao menerapkan praktik pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan. 440 produk Pengetahuan Hijau sudah dihasilkan dan lembaga sertifikasi operator fasilitas energi terbarukan yang pertama di Indonesia telah berdiri.

Namun, semua pembelajaran dan capaian tersebut tak bisa hanya berhenti di sini. Untuk memastikan keberlanjutan investasi dalam perekonomian hijau di Nusantara, pada hari ini MCA-Indonesia menyelenggarakan Dialog Kebijakan tentang Strategi Keberlanjutan untuk Investasi Kemakmuran Hijau di Indonesia.

“Acara ini menyediakan ruang bagi interaksi antara pelaksana proyek dan calon investor, termasuk pemerintah daerah dan lembaga donor. Kami berharap proyek yang didukung Proyek Kemakmuran Hijau akan terus berlanjut dengan pembiayaan atau pendanaan bersama dari lembaga pemerintah, donor, dan investor, tutur Bonaria Siahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penghijauan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top