Pelaku Usaha: Literasi Asuransi Harus Diimbangi Intervensi Teknologi

Penetrasi pasar asuransi di Indonesia diperkirakan baru mencapai angka 2,99% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Guna mempersempit gap pasar asuransi di Indonesia, lanjutnya, upaya edukasi yang masif saja tak cukup. Teknologi perlu mengambil peran untuk mengintervensi proses ini.
Reni Lestari | 19 April 2018 11:22 WIB
Bisnis.com, JAKARTA -  Penetrasi pasar asuransi di Indonesia diperkirakan baru mencapai angka 2,99% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Wakil Direktur Utama PT FWD Life Indonesia Rudi Kamdani mengakui kesadaran masyarakat akan produk asuransi sudah membaik dibandingkan periode 2000-an lalu. Antara lain didorong oleh berbagai upaya edukasi yang dilakukan pemerintah. 
 
Namun demikian menurutnya, hal itu belum bisa banyak mendongkrak penetrasi pasar asuransi di Indonesia. 
 
"Bayangkan saja ada sekitar 60 perusahaan asuransi dan sudah berapa puluh tahun disini, tetapi penetrasinya masih 2,99%. Saya sudah hampir pensiun naiknya cuma satu koma sekian," kata Rudi dikutip Bisnis.com, Kamis (19/4/2018). 
 
Dia melanjutkan, secara pendapatan, premi industri asuransi memang mengalami pertumbuhan setiap tahun. Namun, pasarnya tidak berkembang karena konsumen produk asuransi belum merata tersebar.  
 
Guna mempersempit gap pasar asuransi di Indonesia, lanjutnya,  upaya edukasi yang masif saja tak cukup. Rudi berpandangan teknologi perlu mengambil peran untuk mengintervensi proses ini. 
 
"Di kami [pelayanan produk asuransi] dibantu dengan teknologi. FWD mempermudah segala prosesnya, tapi harus dibantu dengan literasi," ujarnya. 
 
Literasi keuangan, khususnya di sektor perasuransian harus diimbangi dengan penggunaan teknologi. Rudi menekankan, jika literasi berjalan terpisah, yang terjadi adalah kesadaran masyarakat dan penetrasi hanya akan terdongkrak di kota-kota besar saja. 
 
"Kalau literasi berkembang tapi tidak didukung dengan teknologi, akibatnya di kota-kota besar saja [penetrasi naik]," katanya. 
 
Linier dengan hal tersebut, dia pun berharap penyusunan regulasi asuransi digital atau insurtech segera rampung, untuk mendukung pengembangan industri asuransi, serta dalam rangka menghadapi tantangan digitalisasi sektor keuangan. 
 
Sementara itu, FWD Life dalam rangka menjalankan instruksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah mengadakan program rutin terkait inklusi keuangan dan pengenalan produk asuransi kepada masyarakat. 
 
Program terbaru merupakan hasil kerjasama FWD Life dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) untuk mendukung program unified schools dan athlete leadership bagi penyandang disabilitas intelektual di Indonesia.  
 
Tag : penetrasi asuransi
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top