Inversi Kurva Yield Tresuri bisa Menuntun AS ke Resesi Ekonomi

Pandangan Citigroup Inc. yang menyatakan Amerika Serikat akan memasuki masa resesi tampaknya akan diperhatikan oleh para pejabat Federal Reserve.
Dwi Nicken Tari | 19 April 2018 09:08 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA – Pandangan Citigroup Inc. yang menyatakan Amerika Serikat akan memasuki masa resesi tampaknya akan diperhatikan oleh para pejabat Federal Reserve.

Kedua institusi keuangan ini memandang, perbalikan kurva imbal hasil Tresuri AS akan menjadi tanda-tanda buruk bagi pertumbuhan AS dan ekonomi global. Ada pun dengan kurva yield yang semakin bergerak mendatar (flattening) mengindikasikan realitas bahwa yield semakin mendekati area sub-nol.

Menurut laporan Bloomberg, Kamis (19/4/2018), kurva yield obligasi bertenor 5 hingga 30 tahun bergerak mendatar pada Rabu (18/4/2018) menjadi 29 bsp, tercuram sejak 2007.

Sementara kurva yield obligasi bertenor 2 hingga 10 tahun, celahnya menyentuh 41 bsp, juga terendah dalam sedekade. Untuk perpanjangan yield menjadi tenor 10 tahun dari 7 tahun, investor hanya mendapatkan imbal hasil di 4,3 bsp, kurang dari seperempat yang mereka dapatkan tahun lalu.

Jika rentetan Fedspeak dari beberapa anggota FOMC The Fed pekan ini memberikan indikasi, tampaknya pergerakan mendatar kurva yield ini dapat menjadi dilema bagi para pejabat The Fed, yang sebagian besar ingin menormalisasi kebijakan moneternya secara gradual.

“Pejabat bank sentral harus segera memperhatikan arah kurva yield sekarang ini sebelum kurva itu dapat terus terbalik dalam enam bulan,” ujar Gubernur Fed St. Louis, James Bullard, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (19/4/2018).

Di sisi lain, pedagang obligasi tampaknya mulai terbiasa mengikuti laju kebijakan suku bunga dari The Fed, karena optimisme dari  tingkat pengangguran SAS yang mencapai level terendahnya sejak 2000 dan inflasi terus bergerak naik.

Akan tetapi, imbal hasil Tresuri AS untuk jangka pendek dan panjang tentu dapat mengganggu laju kecepatan kenaikan suku bunga The Fed, kecuali para pembuat kebijakan ingin membuat kurva yield menyentuh area di bawah nol.

Katherine Renfrew, Manajer Portofolio di TIAA Investment, menyatakan bahwa The Fed tampak harus sensitif terhadap bentuk kurva yield.

“Jika kita tiba di titik ketika perbalikan [ke bawah] akan terjadi, The Fed mungkin perlu menginjak rem untuk pengetatan stimulus moneternya,” ujarnya.

Sesuatu memang harus dilakukan, setidaknya jika The Fed tidak ingin investor tetap berspekulasi bahwa resesi akan menghampiri. Sebelumnya, hanya butuh waktu sekitar enam bulan bagi kurva yield bertenor 5 hingga 30 tahun bergerak mendatar dari 30 bsp menjadi nol di sepanjang 2005-2006. Sementara kurva yield bertenor 2 hingga 10 tahun menajam menjadi 40 bsp menjadi nol di waktu yang sama. Hal ini memperlihatkan, kedua kurva yield tahun ini bisa saja terus bergerak terbalik hingga akhir tahun.

“Potensi kurva yang dapat bergerak terbalik harus dipandang serius seperti biasanya,” tulis Analis Citigroup Jabaz Mathai dalam laporannya.

Dia melanjutkan, hubungan historis antara kurva dan kemungkinan resesi berada dalam satu garis lurus, yaitu kemungkinan resesi dapat tumbuh dengan cepat ketika kurva bergerak menuju teritori terbalik (ke bawah).

Baca juga: Ini Isi Risalah Rapat The Fed 20-21 Maret

Di dalam laporannya itu, Mathai menunjukkan bahwa penilaian The Fed terhadap kurva yield saat ini masih belum tepat. Dia mengingatkan, pada 2006 ketika Gubernur Fed saat itu, Ben S. Bernanke,  mengatakan dia tidak melihat adanya pembalikan kurva atau inversi sebagai potensi perlambatan ekonomi.

Pun bulan lalu, ketika Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan, “terdapat pernyataan menarik tentang kurva yield yang bergerak mendatar atau berbalik (menurun) perlu intermediasi atau tidak,” sambil menambahkan bahwa kemungkinan resesi masih rendah untuk saat ini.

Pada saat Powell menyampaikan pendapatnya dalam rapat FOMC Maret lalu tersebut, yield telah menyebar di level 10 bsp lebih lebar, untuk yield bertenor 2 hingga 10 tahun, begitu juga yield bertenor 5 hingga 30 tahun.

Strategis BMO Capital Markets yang memperkirakan kurva yield akan berbalik turun pada 2018 menuliskan di dalam catatannya bahwa “bisa saja muncul siasat baru karena momentum mulai hilang.” Namun, kurva yield tetap tidak berubah pada Rabu.

Ada pun, dari sisi arus perdagangan mengindikasikan adanya pertaruhan terhadap curamnya selisih yield ini. Dalam dua hari berturut-turut, kontrak Tresuri AS dengan imbal hasil 30 tahun telah laku terjual, sebuah pertanda bahwa keyakinan imbal hasil jangka panjang tidak terganggu.

Namun, investor yang memposisikan diri untuk ekspansi ekonomi secara keberlanjutan masih belum dapat dikatakan aman. Pasalnya, setelah kurva yield bertenor 3 bulan hingga 10 tahun bergerak terbalik pada Januari 2006, hanya butuh waktu dua tahun hingga Resesi  Besar terjadi.

“Kurva yield yang benar-benar terbalik merupakan pertanda dari resesi dan secara historis terjadi ketika The Fed dalam siklus pengetatan, dan pasar kehilangan keyakinan dalam outlook perekonomian,” ujar John Williams, calon Gubernur Fed New York.

Dia menambahkan, hal tersebut bukan masalah besar untuk saat ini karena obligasi Negeri Paman Sam runtuh sebagian karena Treasuri AS meningkatkan penerbitan utang jatuh tempo lebih pendek agar dapat mendanai defisit anggaran yang melebar.

Namun, kurva yield obligasi bertenor 5 hingga 30 tahun telah melaju melewati batas yang belum pernah disentuhnya sejak bergerak mendatar selama 9 sesi berturut-turut pada Rabu. Selisihnya hanya mengecil 10 kali dalam beberapa kesempatan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yield obligasi as

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top