Jokowi Yakin Revolusi 4.0 Dukung Pertumbuhan Industri Otomotif

Presiden Joko Widodo meyakini revolusi industri 4.0 tidak akan mengancam pertumbuhan industri, khususnya industri otomotif di Indonesia.
Amanda Kusumawardhani | 19 April 2018 11:44 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) Tahun 2018 di JI-Expo Kemayoran, Kamis (19/4). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo meyakini revolusi industri 4.0 tidak akan mengancam pertumbuhan industri, khususnya industri otomotif di Indonesia.

Meski masa transisi dari revolusi industri 3.0 ke 4.0 memberikan guncangan signifikan terhadap industri otomotif, Jokowi menegaskan industri 4.0 menyimpan potensi yang besar untuk digali.

"Tema yang dipilih Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 merupakan dukungan mobil listrik. Ini acara paham betul bahwa revolusi industri 4.0 mengarah ke otomotif juga," katanya ketika membuka IIMS 2018 di Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Dengan masuknya industri 4.0, Presiden menyebutkan ada sejumlah dampak negatif terhadap industri otomotif misalnya menciutnya industri komponen otomotif akibat booming mobil listrik hingga adanya fenomena abonemen mobil yang memungkinkan pelanggan mengendarai mobil tanpa membelinya.

"Itu prediksi dan saya enggak percaya. Kalau yang pesimis seperti itu, saya enggak percaya. Saya percaya industri 4.0, pertumbuhan sektor industri otomotif akan melonjak," ujarnya.

Menurut Jokowi, jenis pekerja memang berubah akibat revolusi 4.0. Kendati demikian, perubahan itu tidak serta merta membuat jumlah pekerja di industri ini menjadi berkurang.

Sebaliknya, revolusi industri 4.0 di industri otomotif akan memacu pekerjaan baru dengan jumlah pekerja yang dia perkirakan bakal meningkat dibandingkan sebelumnya.

"Pertama, coba kita pikir lagi bisnis beralih dari beli ke panggil mobil, berarti mobil yang sama akan dipakai orang. Mobil bisa dipakai tiap orang dan terus menerus. Bisa 8 jam, bahkan bisa 24 jam sehari," tutur Jokowi.

Peralihan ini disebutnya memberikan peluang jasa perawatan mobil yang memiliki sifat padat karya. Selain itu, peralihan mobil pribadi ke mobil publik membuat daya tahan mobil yang sebelumnya bisa mencapai 10-15 tahun bakal tergerus hanya bertahan 3-5 tahun saja karena pemakaian yang intensif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jokowi, Revolusi Industri 4.0

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top