Investor Punya Harapan Tinggi Investasi di Negara-negara Asean

Laporan terbaru berjudul Business Barometer: OBG in ASEAN CEO berdasarkan hasil survey yang baru saja diluncurkan oleh Oxford Business Group (OBG) menunjukkan bahwa para investor menunjukkan sentimen yang sangat positif dan harapan berbisnis yang tinggi terhadap sejumlah negara-negara Asean.
Mia Chitra Dinisari | 20 April 2018 15:23 WIB
Oxford Bussiness Group - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Laporan terbaru berjudul Business Barometer: OBG in ASEAN CEO berdasarkan hasil survey yang baru saja diluncurkan oleh Oxford Business Group (OBG) menunjukkan bahwa para investor menunjukkan sentimen yang sangat positif dan harapan berbisnis yang tinggi terhadap sejumlah negara-negara Asean.

Sentimen investor semakin membaik selama dua dekade setelah terjadinya krisis Asean di masa lalu.

Berdasarkan hasil survey dan wawancara OBG, terdapat 72% pemimpin perusahaan yang menyatakan bahwa mereka memilki kecenderungan yang tinggi untuk menanamkan modal dalam jumlah besar dalam kurun waktu 12 bulan kedepan.

Hampir 84% pemimpin perusahaan dari enam negara ASEAN yang disurvei juga menyatakan bahwa mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap ruang lingkup bisnis dalam negeri dalam kurun waktu 12 bulan kedepan.

Di jaman saat sektor swasta semakin memiliki peran penting dalam mendorong perkembangan negara, setidaknya tiga perempat responden menyatakan bahwa belanja modal pemerintah tidak lebih dari 40% bisnis di sektor yang sedang mereka garap di negara masing-masing.

Hasil survey OBG juga menunjukkan bahwa perekonomian Cina terus mempengaruhi pasar ASEAN. Sekitar 33% responden meyakini bahwa perlambatan perekonomian Cina merupakan faktor eksternal yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dalam negeri secara jangka pendek-menengah.

Berdasarkan data resmi dari Cina, nilai perdagangan antara negara tirai bambu tersebut dan negara-negara ASEAN lainnya telah mencapai U$514.8 miliar pada tahun 2017. Cina juga mempu menempatkan posisi teratas dalam daftar daftar mitra dagang dari semua enam negara dalam survey OBG.

Patrick Cooke selaku regional editor for Asia di OBG menyatakan bahwa sentimen dan ekspektasi berbisnis di wilayah ASEAN sangat tinggi. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa ASEAN saat ini telah menjadi motor penggerak ekpansi ekonomi secara global nomor satu di dunia.

Namun, Cooke juga mengemukakan bahwa risiko eksternal dapat mengagalkan potensi ASEAN, apalagi saat ini dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia (yaitu Cina dan Amerika) sedang marak mengimplementasikan kebijakan anti-dagang yang mempersulit perdagangan di antara dua negara tersebut. Namun, Cina diprediksi akan melunak karena akan lebih terfokus dalam mengurangi risiko sektor keuangan dan menyeimbangkan perekonomian dalam rangka menuju ekspansi ekonomi berbasis konsumsi.

Cooke mengatakan bahwa survey terkait perpajakan, akses kredit, dan transparansi berbisnis memunculkan jawaban yang cukup beragam dari para responden. Hal ini mencerminkan bahwa setiap negara sedang mengalami tahap perkembangan dan prioritas ekonomi yang berbeda.

“Mungkin, keberagaman dan perbedaan lingkungan berbisnis tiap negara menunjukkan bahwa meskipun sudah ada upaya untuk mengharmonisasi perundangan, peraturan, standar, dan praktik bisnis, masih terdapat disparitas pembangunan serta persaingan rezim fiskal yang dapat menghalangi terjadinya integrasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang harmonis, yang sebenarnya bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal kohesif dan basis produksi yang mendukung 'kesejahteraan bersama' pada tahun 2025, ”ujar Cooke.

Cooke menambahkan apabila MEA ingin sukses dalam menciptakan negara-negara yang “manusia-sentris, berorientasi pada masa depan, dan terintegrasi dengan value chain internasional,” seluruh negara anggota MEA perlu memprioritaskan pendidikan dan pengembangan keterampilan sebab saat ini dunia sangat membutuhkan inovator muda yang dapat mengubah ide menjadi sebuah usaha yang berkelanjutan dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dalam menghadapi kompetisi global dan perkembangan teknologi yang pesat. Hal tersebut juga akan mendorong terciptanya jenis industri baru, dan industri lama yang tidak mampu bersaing tentunya akan tertinggal.

Dalam penelitian tersebut, OBG melakukan wawancara dan survey tatap muka dengan lebih dari 550 pemimpin perusahaan (CEO, COO, CFO, dan setara) yang berada di Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Dari hasil wawancara tersebut, OBG menyusun sampel kolektif untuk menilai dan menganalisa kepercayaan diri investor regional serta mencatat sejumlah persepsi mereka terhadap negara-negara ASEAN.

Sampel terbesar didapatkan dari sejumlah negara seperti Indonesia, yang diikuti oleh Myanmar, Filipina, dan Thailand, sedangkan sampel terkecil didapatkan dari Vietnam and Malaysia. 

Dalam hal keterampilan, 31% responden mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan yang paling dibutuhkan, kemudian diikuti oleh engineering (28% responden), dan research & development (15% responden). Kesenjangan keterampilan juga dapat mengurangi daya saing apabila tidak diatasi.

Dalam hal tranparansi, para responden memberikan jawaban yang beragam. Setidaknya 47% pemimpin perusahaan menyatakan bahwa transparansi pasar sangat tinggi tergantung pada wilayah dan negara, sedangkan 41% lainnya menyatakan bahwa transparansi sangatlah rendah. Dalam hal perpajakan jawaban juga cukup beragam, hampir separuh dari seluruh responden menyatakan bahwa perpajakan di negara mereka sangat tidak kompetitif, sedangkan 41% lainnya menyatakan sangat kompetitif.

Responden dari Vietnam dan Myanmar memiliki sentimen yang sangat negatif terhadap tranparansi berbisnis di negara masing-masing. Para CEO dari Myanmar dan Filippina juga merupakan yang paling pesimistis terhadap lingkungan perpajakan di dalam negeri. Sebaliknya, para CEO dari Vietnam, Malaysia, dan Thailand memiliki sentimen yang lebih positif terhadap perpajakan di negara masing-masing.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
oxford

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top