IMF Berharap Tensi Perang Dagang AS-China Turun

Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China mengikis keyakinan pebisnis dan investor kendati pertumbuhan ekonomi global menikmati masa-masa terbaiknya.
Dwi Nicken Tari | 20 April 2018 18:17 WIB
Director Fiscal Affairs Departement IMF Vitor Gaspar dan panel lainnya memberikan paparan dalam rangkaian Spring Meeting World Bank 2018, Rabu (18/4). - Bisnis/David Eka Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA -- Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China mengikis keyakinan pebisnis dan investor kendati pertumbuhan ekonomi global menikmati masa-masa terbaiknya.

Pesan itulah yang disampaikan dalam pertemuan menteri keuangan dan bankir bank sentral dari seluruh penjuru dunia di Washington, Pertemuan Musim Semi Dana Moneter International (Spring Meetings of the IMF).

Isu perdagangan diharapkan mendominasi diskusi karena dua ekonomi terbesar di dunia masih saling mengancam tarif dan memberlakukan perhitungan proteksionisme lainnya.

“Apa yang menjadi sangat berarti adalah mempertanyakan tentang keseluruhan sistem, yang mana penyelenggara [perdagangan dunia] telah mengoperasikannya selama berdekade-dekade. Keyakinan ini yang terancam dapat terkikis,” ujar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam konferensi pers, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (20/4/2018).

Adapun, The Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini dan tahun depan berada di level 3,9%, tetap tidak berubah dari perkiraan pada Januari, dan merupakan laju tercepat sejak 2011.

Namun, di saat yang sama, dua ekonomi terbesar di dunia tampak akan merusak kecepatan itu lewat ketidakpastian yang mewarnai aksi saling balas tarif. Washington di satu sisi memaksa Beijing untuk mengurangi hambatan untuk aturan impor dan investasi asingnya, sementara di sisi lain, China mengkritisi Presiden AS Donald Trump atas sejumlah tarif yang ingin diberlakukannya.

Ilan Goldfajn, Gubernur Bank Sentral Brazil, pun menumpahkan kekhawatirannya terhadap perselisihan perdagangan ini karena dapat menggoyahkan pasar keuangan dan merusak laju stabil ekspansi ekonomi global.

“Saya sangat khawatir dengan konflik seperti ini akan menimbulkan risiko dalam pasar uang: premi tinggi, berkurangnya arus modal, dan akhirnya hanya akan merusak lingkungan yang telah kita nikmati selama beberapa tahun ini,” ujar Goldfajn.

Meskipun isu perang dagang memudarkan keyakinan beberapa pihak, optimisme bahwa kesepakatan akan tercapai untuk mengurangi tensi dan efek bola salju dari perang dagang tetap ada.

Menteri Keuangan Australia Mathias Cormann menyampaikan dalam wawancara bahwa dia berharap kesepakatan tercapai secepatnya. Menteri Keuangan Sri Lanka Eran Wickramaratne juga menilai perselisihan ini akan segera berlalu.

Pun Menteri Ekonomi Chile, Jose Ramon Valente termasuk dari kelompok yang tidak panik akan terjadinya perang dagang.

“Ada tren untuk perdagangan yang bebas, terbuka, dan terintegrasi antarnegara dan kita semua ada di dalamnya,” kata Valente.

Adapun, tanda-tanda berkurangnya tensi perang dagang dalam waktu dekat masih belum terlihat. Penasihat Ekonomi Gedung Putih Kevin Hasset menyerukan agar dunia menekan Beijing dan memanggil negara-negara lain untuk memperhatikan praktik perdagangan negara-negara Asia.

“Seluruh komunitas dunia harus mendorong mereka [China] untuk berubah,” kata Hasset dalam sebuah even oleh Institute of International Finance.

Langkah hawkish seperti itu juga didukung oleh kepala ekonom Wakil Presiden AS Mike Pence, Mark Calabria yang meminta agar China bergerak menuju ekonomi berbasis pasar yang sesuai dengan aturan internasional.

“Tentu saja kami ingin menghindari perang dagang, tetapi kami harus memperlihatkan bahwa kami bisa memberikan kerugian yang sama pula untuk kedua belah pihak,” ujar Calabria.

Sementara itu, pejabat Pemerintahan China, termasuk Gubernur Bank Sentral China (PBoC) Yi Gang sejauh ini masih tampak tenang. Kendati Beijing telah memperjelas bahwa mereka akan membalas atas setiap proteksionisme AS.

“[China] siap untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi perusahaan domestik,” kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng. (Bloomberg/Dwi Nicken Tari)

Tag : imf
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top