Sistem Perbankan India Dilanda Sederet Masalah, Prospek Ekonomi Terancam

Skandal, kredit macet, dan kekurangan uang tunai di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) telah melanda sistem perbankan India dalam beberapa bulan terakhir. Kinerja buruk ini mulai berdampak, baik bagi ekonomi negara Anak Benua maupun Perdana Menteri Narendra Modi.
Renat Sofie Andriani | 23 April 2018 11:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Skandal, kredit macet, dan kekurangan uang tunai di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) telah melanda sistem perbankan India dalam beberapa bulan terakhir. Kinerja buruk ini mulai berdampak, baik bagi ekonomi negara Anak Benua maupun Perdana Menteri Narendra Modi.

Sektor perbankan formal India yang bernilai hampir US$1,7 triliun menghadapi pinjaman bermasalah senilai US$210 miliar, sementara beberapa bank regional telah terjerat dalam skandal penipuan.

Para ekonom Goldman Sachs Group telah memangkas proyeksi pertumbuhan mereka untuk tahun fiskal yang berakhir Maret menjadi 7,6% dari 8%, di tengah kekhawatiran bahwa kesuraman sistem perbankan lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Mesin-mesin ATM di beberapa bagian negara telah dilaporkan menjadi kering dalam beberapa hari terakhir. Ada permintaan uang tunai yang luar biasa tinggi, menurut Kementerian Keuangan.

Pengeluaran pertanian hingga pemilu yang tidak pasti serta aksi penimbunan oleh sejumlah keluarga di India dinilai menjadi penyebab kekurangan rupee.

Namun beberapa akar permasalahan mungkin terletak pada keputusan Modi pada tahun 2016 untuk menarik uang tunai berdenominasi besar dari peredaran, dalam upaya untuk mengurangi 'uang hitam' serta menindak transaksi finansial terlarang.

Langkah ini awalnya menyebabkan kekacauan ekonomi dan berlanjutnya guncangan mengganggu terhadap peredaran uang tunai. Meskipun pejabat pemerintah mengatakan sistem perbankan sehat dan bahwa ada cukup uang untuk kelebihan permintaan, krisis itu hanya semakin menyuramkan citra bank.

“Masalah-masalah dalam sistem perbankan India sebagian besar disebabkan oleh kurangnya due diligence,” kata N.R. Bhanumurthy, seorang ekonom di National Institute of Public Finance & Policy. “Tentu saja ini akan mempengaruhi pertumbuhan.”

Ketidakpastian pada sektor keuangan datang tepat ketika ekonomi menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan dari perbaikan sistem pajak yang disruptif dan larangan tunai tahun 2016. Sekarang ada kekhawatiran yang berkembang bahwa pinjaman, dan dengannya kegiatan ekonomi, akan terhenti.

Bhanumurthy untuk saat ini memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 6,5% untuk tahun fiskal saat ini yang berakhir Maret 2019, meskipun ia khawatir angkanya bisa lebih rendah. Perkiraan ini telah turun dari 6,6% tahun lalu dan juga perkiraan paling pesimistis sebesar 6,9% dalam survei Bloomberg.

Bank-bank India

Citra bank-bank India telah ternodai oleh serangkaian skandal yang terungkap selama beberapa bulan terakhir. Banyak perusahaan, dibebani kelebihan kapasitas dan permintaan yang lemah, berjuang dengan dampak maraknya peminjaman pascakrisis keuangan global.

Perusahaan-perusahaan itu tidak mampu membayarkan utang mereka karena ekonomi telah melambat, terutama di sektor listrik, baja, dan telekomunikasi. Setidaknya beberapa dari pinjaman ini mungkin telah diberikan dengan pengawasan yang tidak memadai, sehingga membuat lembaga keuangan berisiko.

Hal tersebut ditambah dengan pengawasan regulasi yang ketat oleh bank sentral dan penyelidik federal, telah menyingkap rahasia ini.

Pekan lalu, UCO Bank yang berbasis di Kolkata menjadi sorotan setelah lembaga investigasi federal India mendaftarkan kasus terhadap mantan chairman-nya karena melakukan kecurangan terhadap bank yang dikelola negara ini.

UCO Bank telah melaporkan kerugian untuk sembilan kuartal berturut-turut saat membuat ketentuan untuk utang yang memburuk.

CEO Axis Bank, Shikha Sharma, bulan ini mengatakan akan mengundurkan diri lebih awal dari pemberi pinjaman berskala menengah tersebut setelah gagal mengendalikan sekitar 250 miliar rupee dalam hal pinjaman bermasalah.

Dalam salah satu kasus penipuan yang paling terkenal, seorang miliarder perhiasan dituduh mendalangi penipuan senilai US$2 miliar di Punjab National Bank, salah satu bank sektor publik terbesar di negara itu dengan menggunakan jaminan palsu. Harga saham Punjab National Bank telah merosot hampir 40% selama setahun terakhir.

“Sentimen bisnis telah memburuk setelah dugaan penipuan perbankan,” kata Abhishek Gupta, Ekonom India dari Bloomberg, yang memangkas proyeksi pertumbuhan pekan ini. Hal ini mungkin berdampak negatif pada pertumbuhan kredit, dengan sistem perbankan dibebani oleh kredit macet.

Gupta telah menurunkan perkiraan pertumbuhannya menjadi 7,2% dari 7,5% untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2019. Angka itu lebih rendah daripada konsensus Bloomberg sebesar 7,4%.

Uang Tunai yang Cukup

Terlepas dari semua itu, bank-bank India dinilai masih dikapitalisasi dengan cukup baik sesuai dengan pedoman modal internasional Basel-III.

“Rencana penyuntikan modal oleh pemerintah harus memperhatikan bank-bank sektor publik, yang memiliki 70% porsi dalam sistem perbankan India,” kata Srikanth Vadlamani, wakil presiden untuk kelompok lembaga keuangan, Moody's Investors Service.

Awal bulan ini, Sanjeey Sanyal, penasihat Modi, mengatakan pemerintah akan memastikan ketersediaan uang tunai di mesin-mesin ATM dan bank-bank sehingga semua permintaan terpenuhi.

“Tidak ada krisis, bank-bank dalam kondisi sangat baik, kami memiliki uang tunai lebih dari cukup dan lebih banyak yang akan dicetak jika diperlukan. Jadi sama sekali tidak perlu bagi siapapun untuk panik tentang hal ini,” terang Sanyal, dikutip Bloomberg.

India mengumumkan rencana rekapitalisasi senilai US$33 miliar pada Oktober tahun lalu untuk mengatasi salah satu rasio pinjaman tertinggi di dunia.

Tetapi skandal-skandal terbaru telah menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian besar modal yang akan dipompa akan menyebabkan lebih banyak kerugian terhadap pinjaman yang memburuk, sekaligus menyisakan sangat sedikit untuk pinjaman baru.

Itu menjadi pertanda buruk bagi ekonomi India yang diperkirakan telah melambat ke level terendah dalam empat tahun pada 2018.

“Sentimen perusahaan sudah turun,” kata Madan Sabnavis, kepala ekonom Mumbai di Care Ratings Ltd. “Tidak ada permintaan dan sebagian besar sektor menghadapi kelebihan kapasitas. Jadi, akankah siklus investasi pulih? Sepertinya tidak, dan masalah-masalah di sektor perbankan akan datang pada saat mereka sudah bergulat dengan pinjaman bermasalah yang besar.”

Tag : ekonomi india
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top