BCA Raup Laba Rp5,5 Triliun

PT Bank Central Asia Tbk. menutup periode kuartal I/2018 dengan mencetak pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi sebesar 10,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dari Rp5 triliun menjadi Rp5,5 triliun.
Ropesta Sitorus | 23 April 2018 18:08 WIB
Karyawan Bank Central Asia melayani nasabah, di Jakarta, Jumat (23/2/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. menutup periode kuartal I/2018 dengan mencetak pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi sebesar 10,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dari Rp5 triliun menjadi Rp5,5 triliun.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan pendapatan operasional perseroan, baik pendapatan bunga bersih maupun nonbunga.

“Pendapatan operasional BCA meningkat 8,7% secara year on year menjadi Rp14,7 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,5 triliun,” kata Jahja dalam paparan Kinerja BCA Kuartal I/2018 di Jakarta, Senin (23/4/2018).

Portofolio penyaluran kredit Bank BCA bersama para entitas anak pada Januari – Maret meningkat 15,0% secara year year (yoy) menjadi Rp470 triliun.

Bila diperinci berdasarkan segmen usahanya, kredit korporasi BCA meningkat 17,6% (yoy) menjadi Rp179,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM naik 14,4% (yoy) menjadi Rp166,7 triliun. Jahja menjelaskan, pada kuartal I/2018, permintaan kredit segmen bisnis lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.

Adapun, segmen kredit konsumer tumbuh 12,0% (yoy) menjadi Rp123,9 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, kredit pemilikan rumah (KPR) naik 10,6% (yoy) menjadi Rp71,9 triliun, diikuti dengan kredit kendaraan bermotor yang naik 14,6% (yoy) menjadi Rp40,2 triliun. Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit tercatat tumbuh 12,3% (yoy) menjadi sebesar Rp11,8 triliun.

Kenaikan kredit tersebut diikuti dengan upaya menjaga kualitas kredit dan pembiayaan dengan posisi rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada level 1,5%. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah tercatat sebesar 183,6%.

“BCA mempertahankan posisi likuiditas dan permodalan yang sehat dengan rasio kredit terhadap pendanaan atau LFR [loan to funding ratio]  sebesar 77,9% dan rasio kecukupan modal atau CAR [capital adequacy ratio] sebesar 23,6%,” imbuhnya.

Pada sisi pendanaan, BCA juga membukukan pertumbuhan dana, khususnya dana murah seperti tabungan dan giro, sejalan dengan upaya pengembangan produk dan layanan penyelesaian pembayaran (payment  settlement0 yang inovatif.

Jumlah dana murah alias current account saving account (CASA) perseroan tumbuh 11,3% menjadi Rp451,1 triliun. Dana CASA mendominasi perolehan dana pihak ketiga (DPK) BCA dengan porsi 77,3%.

Dalam komposisi CASA, dana tabungan tumbuh positif sebesar 10,8% (yoy) menjadi Rp297,2 triliun, sedangkan dana giro tumbuh 12,2% (yoy) menjadi Rp153,8 triliun. Adapun dana deposito tumbuh 2,1% (yoy) menjadi Rp132,5 triliun. Secara total, DPK  yang dihimpun BCA per akhir Maret mencapai Rp583,5 triliun, tumbuh 9,0% (yoy).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bca

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top