Minat Investasi Asing Tinggi, Kadin Berharap OSS Segera Diimplementasikan

Kerjasama antara Hong Trade Development Council (HKTDC) dan Indonesia melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal berpotensi mendatangkan miliaran dolar investasi ke megaproyek infrastruktur dalam negeri.
Hadijah Alaydrus | 25 April 2018 18:47 WIB
Pemandangan proyek pembangunan Simpang Susun Semanggi, di Jakarta, Selasa (25/4). - Antara/Widodo S. Jusuf

Bisnis.com, JAKARTA - Kerjasama antara Hong Trade Development Council (HKTDC) dan Indonesia melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal berpotensi mendatangkan miliaran dolar investasi ke megaproyek infrastruktur dalam negeri.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) RI Rosan P. Roeslani mengungkapkan investor dari HongKong dan Shanghai fokus menyasar investasi di sektor infrastruktur.

"Ada nilainya, tetapi saya tidak hafal, [dalam] miliar dolar," kata Rosan ketika ditemui di sela-sela acara Indonesia-HK Strategic Partnership on the Belt and Road Initiative.

Menurutnya, perkembangan proyek Belt and Road Initiative Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain seperti Sri Langka dan Pakistan. Kendala ini disebabkan dari kondisi internal Indonesia, di mana masalahnya terkait dengan regulasi dan perizinan investasi yang dibutuhkan.

"Ada perbedaan perizinan yang disampaikan oleh pemerintah daerah dan pemerintahan pusat."

Ini menjadi perhatian pemerintah sehingga Online Single Submission (OSS) didorong. Dia berharap OSS ini yang akan diimplementasikan secara penuh pada Juni mendatang dapat membantu memperlancar investasi di Tanah Air.

Rosan menyampaikan investor dari HK dan Shanghai menilai proyek-proyek yang ditawarkan dalam koridor Belt and Road Initiative sudah matang. Proyek tersebut telah disampaikan oleh Menko Maritim Luhut B. Panjaitan dalam lawatannya ke China beberapa waktu lalu.

Proyek dalam koridor Belt and Road Initiative tersebut terbagi dalam tiga wilayah, yakni Sumatera Utara, Kalimatan Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Paket investasi dalam tiga wilayah tersebut telah terintegrasi mulai dari pelabuhan, jalan tol, hingga kawasan industri atau kawasan wisata. Adapun, total investasinya mencapai US$51,93 juta.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas T. Lembong mengatakan tujuan promosi investasi antara dua kawasan menyasar pada sektor perdagangan dan pariwisata.

"Ini kita mau memanfaatkan momentum yang kuat di mana dalam 7 tahun terakhir pertumbuhan investasi dari Hong Kong, dan Tiongkok yang naik sangat tajam," kata Thomas.

Sampai tahun lalu, Tiongkok dan Hong Kong mencapai rangking tiga dan empat sebagai investor internasional terbesar di Indonesia.

Investasi dari Hong Kong dan Tiongkok itu sekarang kira-kira US$2 miliar per tahun. Jika Indonesia bisa menjaga rata-rata pertumbuhan 10% per tahun, Thomas yakin tujuh tahun ke depan akan naik dua kali lipat dari angka saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi asing

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top