Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Bisnis Valas

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelemahan Rupiah terhadap dolar AS sejak pekan lalu menjadi perhatian pelaku industri finansial khususnya di sektor perbankan. Meski demikian sejumlah bankir menyatakan keadaan tersebut tidak mempengaruhi lini bisnis bank secara signifikan.
Nirmala Aninda | 25 April 2018 20:23 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan Rupiah terhadap dolar AS sejak pekan lalu menjadi perhatian pelaku industri finansial khususnya di sektor perbankan. Meski demikian, sejumlah bankir menyatakan keadaan tersebut tidak mempengaruhi lini bisnis bank secara signifikan.

CEO Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) Rino Donosepoetro mengatakan pelemahan Rupiah yang menembus Rp13.921 per dolar pada hari ini, Rabu (25/4/2018), tidak memberikan pengaruh negatif terhadap bisnis bank.

"Kalau melihat prediksi dari Chief Economist kami, nantinya kami percaya bahwa rupiah akan menguat dengan beberapa faktor fundamental yang terjadi sekarang misalnya ekspor Indonesia yang semakin meningkat," ujarnya di Jakarta.

Rino menuturkan, dari sisi perbankan dampak pelemahan Rupiah diharapkan tidak akan mempengaruhi Indonesia sebab beberapa waktu lalu peringkat Indonesia terhadap iklim investasi semakin membaik. Hal ini tentunya memberikan persepsi baik bagi investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia.

Seperti yang diketahui, pada awal April 2018 Moody's Investors Service mengumumkan peningkatan peringkat pada sembilan institusi keuangan di Indonesia, yang terdiri dari tujuh bank dan dua perusahaan jasa keuangan, menjadi Baa2.

"Itu semua meyakinkan kami, prediksinya rupiah akan menguat. Pasti butuh waktu tapi sampai dengan akhir tahun ini rupiah akan menguat dari level sekarang," ujar Rino.

Dia juga menambahkan bahwa pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi kinerja bank dalam mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK).

Sepanjang tahun 2017 SCBI menghimpun DPK sebesar Rp29,7 triliun atau tumbuh 2,8% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp28,9 triliun.

Komposisi DPK tersebut terbagi menjadi 70% dana dalam rupiah dan 30% dana dalam valuta asing atau sebesar Rp8,77 triliun. DPK SCBI dalam valuta asing tercatat turun 14,9% dari total sebelumnya Rp10,3 triliun.

Sementara itu untuk kinerja kredit, SCBI mencatatkan pemberian kredit sebesar Rp26,7 triliun sepanjang tahun lalu atau tumbuh 8,9% secara year on year.

Komposisi kredit tersebut terdiri dari Rp14,47 triliun dalam mata uang Rupiah dan Rp13,5 triliun dalam valuta asing. Pembiayaan SCBI dalam valuta asing tumbuh 27,8% dari tahun sebelumnya sebesar Rp10,7 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
standard chartered

Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top