Rupiah Terdepresiasi, Agus Marto Minta Dunia Usaha Jangan Panik

Bank sentral mengimbau agar dunia usaha tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Pasalnya, momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi baik.
Hadijah Alaydrus | 28 April 2018 09:33 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo bersiap menggelar konferensi pers terkait langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di Jakarta, Kamis (26/4/2018). - REUTERS/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank sentral mengimbau agar dunia usaha tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Pasalnya, momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi baik.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengatakan ada tiga hal yang memperkuat momentum tersebut.

Pertama, ekonomi dunia menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,9%.

Kedua, Indonesia dalam pengelolaan ekonomi mencatat inflasi yang terjaga dalam kisaran sasaran selama tiga tahun terakhir, defisit transaksi berjalan selama dua tahun terakhir berada di kisaran 1,7%-1,8%.

Ketiga, Indonesia sedang mendapatkan kepercayaan dari dunia dan itu terlihat dari rating agency yang memberikan peringkag satu notch di atas level terendah investment grade.

Selain faktor di atas, SBN 10 tahun Indonesia juga masuk ke dalam Bloomberg Barclay Global Index.

Selain itu, neraca perdagangan kuartal I/2018 berhasil mencatat surplus sekitar US$1 miliar.

"Oleh karena itu, kita tetap harus tidak panik, dan kita tetap percaya ekonomi kita mengarah kepada kondisi yg lebih baik," kata Agus, Jumat (27/4).

Selama 1 April-26 April 2018, Agus menambahkan tekanan rupiah jauh lebih dari negara-negara di Asean.

Rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,88% atau lebih rendah jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya, di mana Thailand terdepresasi sebesar -1,12%, ringgit Malaysia -1,24%, dolar Singapura 1,17%, won Korea Selatan -1,38% dan rupee India 2,4%.

Dengan demikian, Agus berharap semua pihak tidak perlu khawatir dengan dinamika nilai tukar, karena BI akan selalu ada utk menjaga stabilitas itu ada.

Sebenarnya, risiko nilai tukar dari dunia usaha Indonesia sudah tidak besar. Pasalnya, utang valas korporasi sudah berkurang. Sekalipun masih ada korporasi yang memiliki utang valas, Agus menuturkan korporasi tersebut sudah mengikuti prinsip kehati-hatian BI.

Adapun, risiko lain yang patut diperhatikan adalah risiko impor.

"Indonesia juga punya impor yang cukup besar dan impor itu ada kewajiban-kewajibam valas," kata Agus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top