Tak Intervensi BI, Ini Respons Presiden Jokowi Soal Pelemahan Rupiah

Presiden Joko Widodo menyatakan para eksportir merasa senang dengan kondisi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, khususnya para eksportir kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).
David Eka Issetiabudi | 09 Mei 2018 18:48 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat pembukaan The 42nd Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition di Jakarta, Rabu (2/5/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, ROKAN HILIR — Presiden Joko Widodo menyatakan para eksportir merasa senang dengan kondisi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, khususnya para eksportir kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat meresmikan peremajaan 25.423 hektare sawit rakyat di Rokan Hilir, Riau, Rabu (9/5/2018).

Kendati demikian, kondisi ini tidak menyenangkan semua pihak. Jokowi mengatakan gejolak nilai tukar mata uang Garuda, juga dialami mata uang lainnya.

"Tapi apapun ini memang semua negara mengalami. Semua negara mengalami yang pertama karena adanya perang dagang isu negara besar dan kenaikan suku bunga AS," tuturnya.

Meski pemerintah tidak akan intervensi kebijkan moneter Bank Indonesia, Jokowi mengaku pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Bank Sentral terkait dengan kondisi terkini nilai tukar rupiah yang sudah menembus Rp14.000 ini.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menganggap jangan disandingkan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp14.000 terhadap dolar AS, menunjukkan mata uang Garuda bermasalah.

Menurutnya, memang tidak semua negara mengalami pelemahan sama seperti Indonesia, tetapi sejumlah negara terutama negara besar mengalami pelemahan seperti Indonesia.

"Saya tidak mau bilang [merekomendasikan kenaikan suku bunga], saya cuma bilang dalam situasi begini pilihannya tidak banyak lagi," katanya.

Senada dengan Jokowi, Darmin mengatakan kondisi ini membuat senang para eksportir, sehigga memang tidak tepat bahwa semua pihak mengalami kesulitan.

Apalagi jika kondisi saat ini disandingkan dengan apa yang terjadi pada krisis 1999. Dia menambahkan tidak bisa dibandingkan secara linier.

"Saya bekas Gubernur BI lho, saya merasakan betul," tegasnya.

Tag : jokowi, Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top