Inflow ke Pasar Surat Utang Bantu Penguatan Rupiah

Momentum penguatan nilai tukar diyakini akan muncul pada kuartal ketiga tahun ini diikuti oleh kembalinya investor ke pasar surat utang.
Hadijah Alaydrus | 14 Mei 2018 20:08 WIB
Karyawan menghitung lembaran uang rupiah dan dolar. - JIBI/Endang Muchtar
Bisnis.com, JAKARTA--Momentum penguatan nilai tukar diyakini akan muncul pada kuartal ketiga tahun ini diikuti oleh kembalinya investor ke pasar surat utang.
 
Adapun, potensi capital inflow atau arus modal masuk diperkirakan mencapai kurang lebih Rp6 triliun. 
 
Kepala Ekonom PT CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan stabiltas nilai tukar dalam dua atau tiga tahun terakhir disebabkan oleh ekspektasi capital inflow di investasi portofolio.
 
"Bukan disebabkan oleh terkendalinya defisit transaksi berjalan," kata Adrian, Senin (14/5).
 
Pasalnya, pasar sudah memiliki prakiraan defisit transaksi berjalan ke depannya.
 
Saat ini, pasar surat utang Indonesia yang masuk kalkulasi Barclays Bloomberg Global Bond Index memiliki potensi bobot sebesar 0,3%. 
 
Jika bobot tersebut efektif per 1 Juni 2018,  Adrian memproyeksikan investor akan kembali masuk ke pasar perempuan. 
 
"Kalau belum punya [surat utang] Indonesia, maka investor harus beli Indonesia. Artinya itu diterjemahkan inflow US$2 miliar-US$4 miliar," ungkap Adrian. 
 
Saat ini, imbal hasil surat utang Indonesia bertenor 10 tahun mencapai sekitar 7%. 
 
Satu-satunya, saingan Indonesia dengan imbal hasil di kisaran yang sama adalah India. Sayangnya, India memiliki tingkat inflasi yang tinggi yakni 4%-5%, sehingga imbal hasil bersihnya mencapai 2%-2,5%.
 
Surat utang Thailand memiliki imbal hasil 2,75% dengan inflasi 2%. Dengan demikian, net imbal hasilnya sebesar 0,75%. 
 
Malaysia memiliki imbal hasil 4% dan inflasi sekitar 2,5%, maka net imbal hasilnya sebesar 1,15%
 
Sementara itu, inflasi Indonesia sekitar 3%. Dengan demikian, imbal hasil surat utang Indonesia sekitar 3,5% setelah dipotong inflasi.
 
"Di dunia tidak ada yang kasih net yield 3,5%."
 
Namun, Adrian memperkirakan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa ke depannya akan dipengaruhi oleh pasar saham. 
 
Proyeksi Price Earning Ratio (PER) IHSG ke depannya akan menyentuh 13,7. Seandainya PER turun lagi ke 13, Adrian memperkirakan IHSG akan bergerak ke level 5.500. 
 
Akan tetapi, penurunan PER tersebut akan menekan IHSG jika bursa regional mengalami pelemahan. 
 
Faktor lain yang dapat menekan IHSG adalah Price Book Value (PBV). PBV bursa di Tanah Air telah turun menjadi 2,38 dari 2,6. Namun jika dibandingkan dengan bursa di pasar berkembang, IHSG termasuk mahal atau premium. 
 
Jika terjadi investor mencabut dananya dari pasar saham, rupiah otomatis akan kembali tertekan. 
 
"Bond market jadi support rupiah dan equity jadi penekan pada rupiah," ujar Adrian. 
 
Secara tahunan, rupiah diproyeksikan begerak di rentang Rp13.600-Rp13.400 per dolar AS pada 2018, dengan rerata tahunan sebesar Rp13.550. 

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top