Pemerintah Perkirakan Defisit Neraca Perdagangan Lanjut

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah menilai defisit neraca perdagangan sebesar US$1,63 miliar yang terjadi pada April 2018 akan berlanjut.
Ipak Ayu H Nurcaya | 15 Mei 2018 22:14 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kiri), dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, seusai menghadiri pembukaan Industrial Summit 2018, di Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/M. Richard

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menilai defisit neraca perdagangan sebesar US$1,63 miliar yang terjadi pada April 2018 akan berlanjut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan defisit yang terjadi disebabkan oleh pembentukan modal akibat banyaknya proyek infrastruktur yang tahapnya sudah semakin jauh dan kenaikan investasi langsung di dalam negeri, sehingga tendensi akan terus berlanjut.

Namun, dirinya menilai hal ini menjadi indikasi yang positif sebab gairah investasi swasta mulai bangkit.

“Memang tendensinya akan berlanjut tetapi kalau dari segi perkembangan ekonomi ini artinya positif. Itu menunjukkan hasil dari kenaikan investasi dan pembangunan infrastruktur karena investasi berjalan, baik yang sekarang [milik pemerintah] maupun milik swasta,” katanya, Selasa (15/5/2018).

Darmin mengemukakan paling penting dalam impor terdiri dari bahan modal dan bahan baku sebanyak 91% sedangkan barang konsumsi hanya 9%. Oleh karena itu, ekspor perlu mengimbangi kenaikan impor yang saat ini terjadi.

Dengan demikian, pemerintah akan terus mempercepat realisasi investasi dan pembangunan infrastruktur dan juga mendorong ekspor mengimbangi kenaikan impor. Sebab jika tidak, dampaknya bisa tidak terlalu baik ke neraca pembayaran.

Darmin menilai secara struktural ekonomi Indonesia apalagi dengan hasil pertumbuhan ekonomi kuartal I/2018 sebesar 5,06% maka dipastikan impor akan menyusul naik.

Meski saat ini, dari sisi ekspor secara bulanan malah turun tapi secara tahunan masih naik 9,01%.

Darmin mengamini meski secara raport memburuk tetapi hal itu sudah menjadi dinamika dalam dunia ekonomi.

"Kalau maunya mudah terus tidak bisa, satu arah terus semuanya, berarti gampang benar mengurus ekonomi. Investasi itu naik, pembangunan infrastruktur mulai realisasinya banyak, maka mau tidak mau impor juga naik. Jadi ekspor harus didorong," katanya.

Adapun, hasil neraca perdagangan ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini. BPS mengklaim defisit itu disebabkan oleh nilai ekspor yang tercatat sebesar US$14,47 miliar. Sementara itu, nilai impor tercatat lebih tinggi sebesar US$16,09 miliar.

Tag : Neraca Perdagangan
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top