EKONOMI JEPANG: PDB Kuartal I/2018 Alami Kontraksi

Pertumbuhakn ekonomi Jepang mengalami kontraksi lebih dari yang diperkirakan pada awal tahun ini, menunjukkan pertumbuhan telah mencapai puncaknya setelah ekspansi terbaik dalam beberapa decade terakhir.
Aprianto Cahyo Nugroho | 16 Mei 2018 14:30 WIB
Industri Jepang. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami kontraksi lebih dari yang diperkirakan pada awal tahun ini, menunjukkan pertumbuhan telah mencapai puncaknya setelah ekspansi terbaik dalam beberapa dekade terakhir.

Dilansir Bloomberg, Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada kuartal I/2018 tercatat turun 0,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), lebih rendah dari rata-rata perkiraan analis yang memprediksi kontraksi sebesar 0,2% yoy.

Kontraksi tersebut, yang didorong oleh penurunan dalam investasi dan konsumsi dan pertumbuhan ekspor yang lebih lemah, datang setelah sejumlah perusahaan di Jepang khawatir atas dampak yang mungkin dari kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai ekspor.

Angka PDB ini juga menyoroti kerentanan bank sentral terhadap guncangan ekonomi atau finansial setelah lima tahun stimulus moneter menyebabkan bank sentral memiliki tidak cukup amunisi untuk mempertahankan pertumbuhan.

Menteri Ekonomi Jepang, Toshimitsu Motegi mengatakan tidak ada perubahan pada pandangan pemerintah bahwa ekonomi pulih secara moderat, dan memprediksi kembalinya pertumbuhan yang akan didorong terutama oleh konsumsi swasta dan belanja modal.

"Tapi kita perlu memperhatikan dampak ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar luar negeri," ungkapnya, seperti dikutip Bloomber, Rabu (16/5/2018).

Permintaan eksternal, atau ekspor dikurangi impor, hanya meningkat 0,1% pada kuartal pertama karena impor melambat lebih dari ekspor.

Namun, perincian data menunjukkan pertumbuhan ekspor kehilangan momentum, berkembang hanya 0,6% pada kuartal pertama setelah pertumbuhan 2,2% pada Oktober-Desember tahun lalu.

Pertumbuhan ekspor yang lebih lambat mencerminkan penurunan pengiriman suku cadang ponsel dan peralatan pabrik di kuartal tersebut, ungkap seorang pejabat pemerintah.

Hal ini menjadi kekhawatiran bagi manufaktur Jepang karena banyak dari mesin dan komponen elektronik dikirim ke China, di mana mereka digunakan untuk memproduksi barang untuk diekspor. Namun, perdagangan ini beresiko jika pemerintah Trump tetap mengenakan tarif pada ekspor Cina.

Terlepas dari kontraksi di kuartal pertama, para ekonom mengatakan hal ini hanya bersifat sementara dan akan kembali pulih, walaupun tidak akan sekuat kuartal sebelumnya.

"Perekonomian tidak menuju resesi," kata Hiroshi Miyazaki, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities. "Namun, jelas bahwa dalam jangka panjang laju pertumbuhan melambat."

Data ekonomi ini menandai akhir dari ekspansi ekonomi selama delapan kuartal berturut-turut yang merupakan rentetan pertumbuhan terpanjang Jepang yang kedua, sejak mencatat pertumbuhan 12 kuartal yang terjadi antara kuartal II/1986 hingga kuartal I/1989.

Tag : ekonomi jepang
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top