Travel Advice Tidak Memberi Tekanan Berat

Himbauan berpergian ke Indonesia yang telah dikeluarkan dari 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Australia, setelah rentetan serangan bom di Surabaya dan Riau tidak akan memberikan tekanan berat bagi perekonomian.
Hadijah Alaydrus | 16 Mei 2018 19:12 WIB
Tiga kapal Yacht milik peserta Sail Indonesia 2017 berlabuh di pesisir pantai Tedys, Kupang, NTT, Kamis (3/8). - ANTARA/Kornelis Kaha

Bisnis.com, JAKARTA -- Himbauan berpergian ke Indonesia yang telah dikeluarkan dari 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Australia, setelah rentetan serangan bom di Surabaya dan Riau tidak akan memberikan tekanan berat bagi perekonomian.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman mengungkapkan secara historis Indonesia dampak bom terhadap perekonomian tidak terlalu signifikan umumnya.

"Yang paling besar dampaknya adalah bom Bali, itu karena PDB Bali ditopang oleh pariwisata," ungkap Juniman, Rabu (16/5).

Sekalipun berdampak, dia melihat dampaknya bersifat sementara. Kendati demikian, dia berharap pemerintah dapat bertindak dengan cepat dalam menuntaskan masalah terorisme tersebut sehingga travel advice atau himbauan berpergian ke Indonesia tidak akan memperburuk kunjungan turis luar negeri ke Indonesia.

Pasalnya, kunjungan turis asing ke Indonesia menjadi sumber penopang cadangan devisa Indonesia serta membantu neraca jasa perjalanan.

Sepanjang kuartal I/2018, kenaikan surplus jasa perjalanan (travel) seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mampu menekan defisit neraca jasa.

Pada kuartal I /2018, surplus neraca jasa perjalanan tercatat sebesar US$1,7 miliar, meningkat dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$1,0 miliar. Peningkatan surplus neraca jasa perjalanan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan penerimaan jasa perjalanan sebesar 13,4% (qtq) dan penurunan pembayaran jasa perjalanan sebesar -11,6% (qtq)

Penerimaan jasa perjalanan dari wisatawan mancanegara (wisman) meningkat menjadi US$3,5 miliar pada triwulan I/2018, dari sebelumnya sebesar US$3,1 miliar pada triwulan IV /2017, seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang disertai dengan peningkatan pengeluaran wisman.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama periode laporan mencapai 2,95 juta kunjungan, meningkat dari 2,88 juta kunjungan pada kuartal sebelumnya, atau meningkat 2,4% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 17,7% (qtq).

Wisatawan asal Tiongkok, Singapura, dan Malaysia merupakan kelompok wisman terbesar yang berkunjung ke Indonesia selama kuartal I/2018. Adapun tujuan favorit wisman ke Indonesia masih terkonsentrasi pada tiga daerah, yaitu Bali, Jakarta, dan Batam.

Tag : pariwisata, bom
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top