Bank Mandiri : Walau BI Rate Naik, Bunga Kredit Masih Berpotensi Turun

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga kredit walau BI mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan.
Ropesta Sitorus | 16 Mei 2018 15:50 WIB
Gedung Bank Mandiri - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga kredit walau BI mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan.

Bahkan, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menilai penurunan suku bunga kredit masih berpeluang terus berlanjut dalam kuartal II/2018.

Tiko-sapaan akrabnya-menyatakan kenaikan suku bunga acuan BI tersebut sudah diekspektasi oleh pelaku industri perbankan.

Namun, kondisi likuiditas yang masih cukup longgar, baik secara industri nasional maupun secara khusus individu perseroan, membuat transmisinya terhadap kenaikan suku bunga dapat ditahan.

“Suku bunga sudah diekspektasi, tapi yang penting kan likuiditasnya longgar jadi tidak ada issue. Likuiditas perbankan secara nasional juga cukup baik, jadi tidak akan mempengaruhi credit rate dalam waktu dekat, bahkan sampai kuartal II ini mungkin masih ada penurunan. Kami tidak akan respon dengan kenaikan subung,” katanya di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Tiko yang juga Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) tak menampik kenaikan suku bunga kebijakan BI akan membuat berpengaruh terhadap kenaikan suku bunga simpanan dan mengerek biaya dana.

Akan tetapi, dia memprediksi, dampak tersebut akan mulai terasa paling cepat dalam waktu dua kuartal ke depan.  

“Kenaikan suku bunga simpanan itu juga tidak secara langsung. Karena ini tidak semata-mata dari sisi 7 Days Reverse Repo Rate saja, tapi juga dari likuiditas. Artinya kalau kita lihat likuiditas masih longgar, ya mungkin masih bisa longgarkan sampai kuartal II ini. Jadi kami tidak terlalu khawatir,” paparnya.

Sementara itu, BI dinilai masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin menjadi 4,75%. Hal itu demi mengerem laju keluarnya modal asing yang membuat nilai tukar rupiah terus tergerus.

Investor lebih mencari aset berdenominasi dolar AS dan melepas rupiah karena selisih imbal hasil instrumen keuangan yang kian menyempit antara di Indonesia dengan di negara maju.

Di sisi lain, bank sentral AS The Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuannya dua hingga tiga kali ke depan dengan kenaikan akumulatif sekitar 75 - 100 basis poin dalam tahun 2018.

“Melihat kondisi capital outflow yang cukup lumayan, sebaiknya BI merespons dengan menaikkan [suku bunga acuan]. Paling tidak perlu naik sebesar 50 basis poin untuk menahan capital outflow, karena kalau 25 basis poin sudah agak terlambat,” kata Ekonom sekaligus Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani.

Dia menuturkan, kenaikan suku bunga acuan tersebut memang memiliki risiko akan membuat suku bunga dana dan kredit turut terkerek sehingga membuat permintaan kredit berpotensi terganggu.

Namun, menurut Aviliani, suku bunga kredit tidak serta merta menjamin kredit akan tumbuh dua digit. Hal tersebut terjadi dalam dua tahun terakhir, ketika BI terus menurunkan suku bunga acuan tapi kredit tidak tumbuh signifikan.

“Jadi masalahnya bukan di suku bunga, tapi iklim investasi. Sebenarnya dengan suku bunga naik, paling tidak nilai tukar bisa membaik, sehingga dunia usaha tidak takut dengan investasi dan kenaikan harga bisa dihindari. Jadi amankan likuiditas dulu, baik pasar modal maupun bank,” ungkapnya.

Tag : bank mandiri
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top