Pemerintah Telah Bayar Subsidi Energi Sebesar Rp39,2 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA Dalam jumpa media update kinerja APBN 2018 yang digelar hari ini, pemerintah melaporkan sudah membayar subsidi energi untuk listrik dan BBM sampai April sebesar Rp39,2 triliun dari total realisasi belanja nonkementerian/lembaga sebesar Rp165,1 triliun.
Ipak Ayu H Nurcaya | 17 Mei 2018 16:18 WIB
Kendaraan antre untuk mengisi BBM di tempat peristirahatan KM 207 jalan tol Palimanan-Kanci, Jawa Barat, Jumat (23/6). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Dalam jumpa media update kinerja APBN 2018 yang digelar hari ini, pemerintah melaporkan sudah membayar subsidi energi untuk listrik dan BBM sampai April sebesar Rp39,2 triliun dari total realisasi belanja nonkementerian/lembaga sebesar Rp165,1 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjabarkan total subsidi BBM yang dibayar ke Pertamina sebesar Rp26 triliun termasuk kurang bayar Rp12,3 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp13,2 triliun termasuk kurang bayar Rp3 trilun.

Dirinya mengklaim pemerintah selalu konsisten membayar subsidi energi untuk mendukung pembiayaan Pertamina dan PLN selaku BUMN yang menyediakan kebutuhan energi untuk masyarakat.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menambahkan, sisa utang subsidi energi yang sudah dibayar pemerintah kepada Pertamina sebesar Rp22 triliun dan PLN sebesar Rp7,3 triliun. Adapun sisanya akan dibayarkan secara bertahap sampai periode 2019.

“Sisa utang subsidi terus kita bayar, kurang bayar subsidi energinya akan dilunasi hingga 2019 mendatang,” ujarnya, Kamis (17/5/2018).

Adapun hasil kinerja APBN sampai dengan April 2018 melaporkan dari asumsi makro hingga April, inflasi tercatat 3,4%, tingkat suku bunga SPN 3 bulan 4,1%, nilai tukar Rp13.631, harga minyak mentah US$64,1 per barel. Adapun, lifting minyak tercatat 750,3 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.155,9 ribu per barel.

Selanjutnya sejumlah capaian dari kinerja APBN sampai April 2018. Dari sisi defisit anggaran tercatat Rp55,1 triliun atau turun dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp72,2 sedangkan defisit keseimbangan primer sebesar Rp24,2 triliun atau lebih tinggi dari tahun lalu.

Dari sisi belanja negara hingga April lalu sudah mencapai Rp582,9 triliun atau 26,3% dari total anggaran belanja Rp2.220 triliun.

Belanja pemerintah pusat untuk kementerian/lembaga (K/L) ataupun non-K/L sebesar Rp331,0 triliun dan transfer dana ke daerah dan dana desa sebesar Rp251,9 triliun.

Sementara dari sisi total penerimaan negara selama 4 bulan ini mencapai Rp527,8 triliun atau 27,9% dari target penerimaan Rp1.894 triliun sepanjang tahun ini.

Penerimaan dari pajak dan bea cukai mencapai Rp416,9 triliun dan penerimaan nonpajak sebesar Rp109,9 triliun dan hibah Rp1,0 triliun.

Pemerintah memastikan dengan belanja dan pendapatan yang baik, realisasi pembiayaan anggaran telah terealisasi sebesar 57,9% atau Rp188,7 triliun dari targenya.

Rinciannya, untuk pembiayaan utang Rp187,2 triliun atau 46,9% terhadap APBN yang secara tahunan meningkat 3,3%. Lalu, pemberian pinjaman Rp1,5 trilun.

Tag : subsidi
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top