Inflasi Jepang Masih Jauh dari Target BOJ

Pertumbuhan harga konsumen inti Jepang melambat pada April selama dua bulan berturut-turut. Hal ini memperlihatkan momentum inflasi diperlukan untuk mencapai target bank sentral Jepang (BOJ) di level 2%.
Dwi Nicken Tari | 18 Mei 2018 11:26 WIB
Seorang wanita di toko Uniqlo Fast Retailing di Tokyo, Jepang (24/1/2017). - .Reuters/Kim Kyung/Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan harga konsumen inti Jepang melambat pada April selama dua bulan berturut-turut. Hal ini memperlihatkan momentum inflasi diperlukan untuk mencapai target bank sentral Jepang (BOJ) di level 2%.

Mengutip Reuters pada Jumat (18/5/2018), indeks harga konsumen inti—yang memasukan harga produk minyak tapi mengecualikan harga makanan segar—naik 0,7% pada April dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, sedikit di bawah perkiraan pasar pada 0,8%.

Pelemahan tersebut mengikuti inflasi sebesar 0,9% pada Maret sebagai perlambatan selama dua bulan berturut-turut, kendati penguatan harga minyak menaikkan harga listrik dan bahan bakar.

Sementara itu, laju indeks harga konsumen inti—mengecualikan harga energi dan makanan segar—melambat ke 0,4% pada April dari 0,5% pada Maret.

Pelemahan indeks harga konsumen inti yang menjadi perhatian BOJ di dalam penghitungan inflasi tidak disambut baik dengan Jepang. Pasalnya, BOJ berharap perusahaan dapat menaikkan harga ketika awal tahun bisnis dimulai.

Perlambatan yang datang setelah data ekonomi kuartal I/2018 yang memperlihatkan perekonomian Negeri Sakura mungkin telah mencapai puncaknya.

Oleh karena itu, analis menilai, data tersebut dapat membuat para pembuat kebijakan di BOJ berkecil hati untuk keluar dari kebijakan stimulus moneter ultra-longgar.

“Tekanan harga yang moderat dan berbasis luas pada April menekankan bahwa BOJ tidak dapat mengetatkan kebijakannya dalam waktu dekat,” kata Marcel Thieliant, Senior Japan Economist di Capital Economics, seperti dikutip Reuters, Jumat (18/5/2018).

Adapun tekanan untuk menahan harga tetap rendah masih kuat di peritel yang dekat dengan pelanggannya.

Operator makanan cepat saji, Yoshinoya Holdings Co., menyatakan tidak ada rencana untuk menaikkan harga makanannya tahun ini meskipun ada kenaikan upah pekerja. Sejak 2014, mereka telah mengalami penurunan penjualan setelah menaikkan harga.

Sementara Torikizoku Co Ltd. juga masih mencatatkan penurunan pelanggan sejak mereka menaikkan harga makanannya pada Oktober 2017, pertama kalinya sejak hampir 30 tahun.

“Perekonomian belum tentu bisa melakukan itu [menaikkan harga] dengan baik,” kata Soichi Okazaki, Presiden Raksasa Ritel Aeon Co Ltd.

Sementara naiknya harga minyak baru-baru ini dapat membantu pertumbuhan harga, analis memperkirakan inflasi tidak akan mencapai target BOJ dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, pertumbuhan upah pekerja dan konsumsi masih rendah.

“Perusahaan masih khawatir untuk menaikkan harga,” kata Yoshiki Shinke, Kepala Ekonom di Dai-ichi Life Research Institute.

Dia menjelaskan, harga untuk barang-barang nonenergi tampak masih akan rendah dan tidak melihat ekspektasi indeks harga konsumen inti dapat melaju dengan cepat.

“Inflasi konsumen inti tampak akan bergerak di bawah 1% untuk sementara itu,” imbuhnya.

Adapun perekonomian Jepang secara tidak terduga berkontraksi pada awal tahun ini. Kontraksi itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah mencapai puncaknya setelah berekspansi selama berdekade-dekade.

Sementara analis memperkirakan akan ada rebound pada kuartal II/2018, namun tanda-tanda bahwa perekonomian telah mencapai puncaknya membuat pasar semakin tertekan untuk ekspektasi BOJ keluar dari program stimulus longgar.

Bulan lalu, BOJ membatalkan bingkai waktu untuk pencapaian inflasinya. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda juga menyatakan, untuk menaikkan inflasi membutuhkan waktu.

Hampir setengah dari ekonom yang disurvei Reuters bulan ini memperkirakan BOJ tidak akan mengubah kebijakan stimulus longgarnya hingga 2020 atau lebih. 

 

Tag : ekonomi jepang
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top