BI Luncurkan Kajian Stabilitas Keuangan Edisi 2018

Bank sentral meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 30 Edisi Maret Tahun 2018 yang bertemakan Penguatan Stabilitas Sistem Keuangan dalam Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan di Jakarta, Jumat (18/5/2018).
Hadijah Alaydrus | 18 Mei 2018 12:16 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (kanan) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (17/5/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank sentral meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 30 Edisi Maret Tahun 2018 yang bertemakan “Penguatan Stabilitas Sistem Keuangan dalam Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan” di Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Buku KSK memaparkan perkembangan kondisi dan risiko pada sistem keuangan serta faktor-faktor yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan secara akurat dan komprehensif. Selain itu, dijelaskan pula berbagai respons kebijakan Bank Indonesia (BI) yang ditempuh guna memitigasi risiko sistemik.

Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan tahun lalu merupakan periode pemulihan ekonomi global setelah pertumbuhan ekonomi dunia menyentuh titik terendah pada 2016. Perbaikan perekonomian global memperlihatkan adanya sumber pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata, dengan motor pertumbuhan ekonomi dunia yang bersumber dari negara maju dan berkembang.

"Dari sisi domestik, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan pada 2017 masih terjaga, disertai dengan risiko perekonomian domestik yang menurun," ungkapnya dalam pidatonya, Jumat (18/5).

Berbagai langkah dan upaya ditempuh BI dan otoritas lain di sektor keuangan dalam merespons dinamika perekonomian dan sistem keuangan global maupun domestik, khusunya dalam memperkuat momentum pemulihan ekonomi nasional yang sedang berjalan.

Ke depan, Agus menuturkan penguatan kebijakan makroprudensial difokuskan kepada tiga aspek utama yaitu penguatan likuiditas, penguatan fungsi intermediasi yang berkualitas, dan peningkatan efektivitas instrumen makroprudensial.

Selain itu, BI akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung serta melakukan koordinasi dan harmonisasi kebijakan lintas lembaga yang baik dan berkesinambungan.

"BI juga akan berkoordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," terangnya.

Stabilitas sistem keuangan merupakan prasyarat bagi terwujudnya pemulihan ekonomi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, bank sentral memandang kebijakan makroprudensial harus diarahkan untuk meningkatkan resiliensi sistem keuangan terhadap potensi risiko sistemik di tengah tantangan dan kompleksitas dinamika sistem keuangan.

Asesmen yang dilakukan BI terhadap komponen-komponen dalam sistem keuangan, yang meliputi institusi keuangan, baik perbankan maupun non-bank, pasar keuangan, korporasi, rumah tangga, serta infrastruktur keuangan, merupakan landasan bagi perumusan kebijakan makroprudensial BI.

Tag : bank indonesia
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top