KABAR PASAR 21 MEI: Problem Struktural Setelah 20 Tahun Reformasi, Implementasi OSS Kembali Ditunda

Berita seputar 20 tahun reformasi Indonesia serta kembali ditundanya implementasi OSS menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (21/5/2018).
Aprianto Cahyo Nugroho | 21 Mei 2018 07:21 WIB
Loading the player ...

Bisnis.com, JAKARTA – Berita seputar 20 tahun reformasi Indonesia serta kembali ditundanya implementasi OSS menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (21/5/2018).

Berikut ringkasan topik utama di sejumlah media nasional hari ini:

20 Tahun Reformasi, Problem Struktural Masih Menumpuk. Setelah 20 tahun reformasi, Indonesia masih menghadapi beragam problem struktural perekonomian, termasuk neraca transaksi berjalan yang mencatat defisit. (Bisnis Indonesia)

Implementasi OSS Kembali Ditunda. Pemerintah kembali menunda peluncuran Online Single Submission (OSS) menyusul masih belum matangnya persiapan legal dan teknis pelaksanaan sistem pelayanan perizinan investasi secara terpadu tersebut. (Bisnis Indonesia)

Melirik Saham Pilihan. Saham sektor pertambangan, ritel, dan konsumer masih menjadi top picks sejumlah analis, didorong oleh kenaikan suku bunga Bank Indonesia, serta adanya momentum Ramadan dan Lebaran. (Bisnis Indonesia)

Investor Ritel Berpeluang Dapat 12,5%. Otoritas Jasa Keuangan telah mengajukan besaran persentase untuk penjatahan saham investor ritel dalam penawaran umum perdana atau initial public offering. (Bisnis Indonesia)

Pajak Kejar Laporan Data Keuangan. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak akan mulai menelusuri sejumlah lembaga keuangan di dalam negeri yang belum melaporkan data nasabahnya. Sebab, wajib lapor data nasabah dalam rangka pertukaran informasi keuangan secara otomatis atau Automatic Exchange of Information (AEoI) itu baru bisa menjaring 81% laporan. (Kontan)

Pertumbuhan Ekonomi 2019 Ditargetkan 5,4%-5,8%. Pemerintah yakin tekanan terhadap perekonomian yang terjadi tahun ini akan berakhir pada tahun depan. Dengan perkiraan tersebut, pemerintah berani mematok pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,4%-5,8%. Angka itu lebih tinggi dari target APBN 2018. (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top