Lantik Pejabat Baru, Darmin Singgung OSS & EoDB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Selasa (22/5/2018) melantik dua pejabat pimpinan tinggi madya atau eselon I.
Ipak Ayu H. Nurcaya & M. Richard | 23 Mei 2018 01:41 WIB
Menko Perekonomian Darmin Nasution - Reuters/Enny Nuraheni

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Selasa (22/5/2018) melantik dua pejabat pimpinan tinggi madya atau eselon I.

Pejabat yang dilantik yakni Bambang Adi Winarso sebagai Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri. Bambang sebelumnya mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Sesmenko dan sebagai staf ahli bidang Pengembangan Daya Saing Nasional.

Pejabat kedua yakni Lestari Indah sebagai Staf Ahli Bidang Pengembangan Daya Saing Nasional yang sebelumnya di Badan Koordinasi penanaman modal (BKPM).

Dalam sambutannya, Darmin menyinggung soal program pemerintah yang batal rilis kemarin yakni Online Single Submission (OSS).

Dia berharap kedua pejabat yang dilantik dapat berkontribusi mempercepat kinerja pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang lebih baik.

"Kita sedang punya fokus dua program yakni peningkatan daya saing dan OSS yang seharusnya sebelum akhir bulan sudah bisa dirilis," tuturnya.

Tak hanya itu, Darmin juga berharap pejabat yang baru dapat memperbaiki ranking Indonesia dalam Easy of Doing Business (EoDB).

Meski untuk tahun keempat pemerintahan Joko Widodo ini tak bisa lagi mengusahakan apa-apa sebab tinggal menunggu hasil evaluasi Bank Dunia pada Oktober mendatang, kata Darmin, setidaknya pejabat baru dapat memulai melakukan langkah strategis guna meraih peringkat yang lebih tinggi lagi pada 2019.

“Dengan perubahan ini kita berharap tentu semakin kuat dan solid. Yang namanya kerja kita sebetulnya tidak mungkin bekerja sendiri-sendiri, Pembagian pekerjaan tidak seperti kue, tetap ada titik singgung dan overlapping. Maka itu, dalam bekerja harus saling mendukung, tidak mungkin suatu pekerjaan bisa dipisahkan dengan yang lain,” ujarnya.

Dampak Pelemahan Rupiah

Darmin juga tidak menepis banyak pelaku usaha yang beban operasionalnya meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

"Tentu saja akan banyak yang terdampak karena harga barang impor akan naik karena depresiasi rupiah selama year to date yang hampir mencapai 5%," ujarnya.

Dia menjelaskan impor pada April 2018 yang tinggi merupakan salah satu faktor cerminan bahwa banyak pelaku impor yang menanggung dampak depresiasi rupiah. "April sendiri tinggi, kalau April year on year sekitar 30% memang tinggi."

Namun, dia yakin pelaku usaha nantinya tetap dapat memperbaiki keadaan keuangan perusahaannya setelah semua keadaan mereda.

Lagi pula, lannutnya, tingginya impor bahan baku mengartikan produksi akan bergerak lebih signifikan, di mana perusahaan dapat memperbesar kapasitas produksi dan pendapatannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top