Ekonom: Depresiasi Rupiah Tak Signifikan Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

salah satu penyebab rentannya nilai tukar terhadap spill over dari luar negeri adalah lebarnya defisit neraca perdagangan, yang mana mengalami perubahan dari surplus US$280 juta pada Maret menjadi defisit US$1,6 miliar pada April 2018.
M. Richard | 23 Mei 2018 15:29 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA -- Depresiasi rupiah diperkirakan tidak akan berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Seperti diketahui, depresiasi nilai tukar rupiah masih berlanjut meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 4,5%. Hari ini (23/5/2018) rupiah masih bergerak fluktuatif di kisaran 14.180, atau melemah sekitar 4,7% year to date.

"Memang sebagian industri ada yang terkena dampak depresiasi, tetapi biasanya pelaku industri sudah bersiap diri, sehingga secara keseluruhan ekonomi masih akan baik-baik saja," kata Head of Economic & Research PT United Overseas Bank (UOB), Enrico Tanuwidjaja kepada Bisnis, Rabu (23/5/2018).

Dia menjelaskan salah satu penyebab rentannya nilai tukar terhadap spill over dari luar negeri adalah lebarnya defisit neraca perdagangan, yang mana mengalami perubahan dari surplus US$280 juta pada Maret menjadi defisit US$1,6 miliar pada April 2018.

Namun, hal tersebut masih dapat dikompensasi nanti, karena komposisi dari impor yang meningkat signifikan tersebut tidak berubah terlalu banyak, yakni konsumsi 9,39%, barang modal 16,29%, bahan baku 74,32%. "Artinya pelaku industri bersiap untuk menjawab konsumsi masyarakat yang lebih tinggi nanti,"katanuya.

Lagipula, momen puasa dan lebaran, Asean games dan tahun politik benar akan memberikan cukup besar dorongan terhadapa konsumsi rumah tangga.

Senada dengan Enrico, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir menjelaskan, jika suatu negara sudah dapat memproduksi bahan baku untuk industrinya sendiri, depresiasi nilai tukar malah memberikan dampak positif terhadap ekonomi negara tersebut.

"China beberapa tahun lalu bahkan melemahkan nilai tukarnya untuk meningkatkan ekspornya, era ini sering kita kenal dengan perang nilai tukar," katanya kepada Bisnis.

Oleh karena itu, disamping berharap gejolak nilai tukar tersebut mereda, pihaknya sedang merevitalisasi sektor industri dengan memberikan insentif pajak, baik di industri hulu dan industri hilir yang terintergrasi dengan industri hulunya. "Dengan penataan industri tersebut maka pelemahan nilai tukar akan menguntungkan buat industri, dan ekonomi," imbuhnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, akibat pelemahan nilai tukar rupiah, Asosiasi Pengusaha Kemas Kaleng Indonesia (Apkki) yang semula memiliki anggota sebanyak 12 pabrik, tercatat sudah tiga pabrik tutup dan satu perusahaan lain diperkirakan menyusul.

Selain itu, beberapa pengembang juga mengeluhkan depresiasi rupiah yang menyebabkan harga bahan pokok seperti besi, semen, dan keramik naik. Untuk mengantisipasi kenaikan harga yang akan memangkas margin, mereka berencana menaikkan harga jual unit 10% hingga 15%.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top