Depresiasi Rupiah Berpotensi Picu Imported Inflation

Bisnis.com, JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksi kemungkinan adanya imported inflation akibat pelemahan rupiah yang terjadi.
Ipak Ayu H Nurcaya | 23 Mei 2018 15:32 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kiri), dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, seusai menghadiri pembukaan Industrial Summit 2018, di Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/M. Richard

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksi kemungkinan adanya imported inflation akibat pelemahan rupiah yang terjadi.

Namun, dirinya memastikan hal itu tidak akan besar. Sebab jika depresiasi pada kisaran 5% tentu tidak akan memukul semua harga barang.

"Jangan lupa itu inflasi kan tidak hanya menghitung barang hasil impor. Ada banyak barang yang tidak di ukur dalam inflasi, tetapi lebih baik kita tunggu daripada menebak-nebak," katanya, Selasa (23/5/2018) malam.

Menurut Darmin, sebenarnya memang total impor barang pada periode April tinggi, tetapi bukan hanya April. Bahkan, jika diakumulasikan sejak Januari hingga April memang pertumbuhannya tinggi.

Pertumbuhan Januari-April tahun ini di bandingkan dengan Januari-April tahun lalu itu 21%. Kalau April saja, kira-kira secara tahunan dari April ini ke April tahun lalu memang tinggi atau sekitar 35%.

"Nah, cuma impor kita sekitar 9%-10% barang konsumsi. Artinya komposisinya ini tidak berubah banyak dari yang dulu kira-kira 10% konsumsi, 20% barang modal, 70% bahan baku," ujarnya.

Darmin mengartikan walaupun itu impor yang tinggi membuat neraca perdagangan maupaun neraca pembayarannya menjadi defisit, tetapi di pihak lain Indonesia bisa berharap bahwa dampaknya ke pertumbuhan sebenarnya mestinya baik.

Sementara itu, meski demikian pemerintah masih akan tetap mendorong impor meskipun di dalamnya mayoritas menjadi barang konsumsi.

Namun, Darmin meyakini sebagian besar tetap bahan baku dan barang modal. Sehingga yang betul adalah bukan impornya yang di hambat ke ekspornya.

Di sisi lain, mantan Gubernur Bank Indonesia ini juga mengemukakan presiden telah memerintahkan untuk melakukan perluasan wilayah ekspor sehingga bukan Asia Timur tetapi juga Asia Selatan.

"Progresnya berjalan, artinya hubungan dagang dengan negara di Asia Selatan di Afrika itu Mendag khususnya mendatangi negara itu untuk mulai membuka hubungan dagang yang lebih baik, tetapi urusan seperti itu kan tidak langsung bisa terasa hasilnya," katanya.

Tag : Inflasi
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top