OJK: Kredit April Tumbuh 8,94%

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan mulai menunjukkan pertumbuhan positif.
Ropesta Sitorus | 23 Mei 2018 17:28 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan di Galeri ATM, di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan mulai menunjukkan pertumbuhan positif.

Menurut Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit yang disalurkan perbankan dalam 4 bulan pertama tahun ini tumbuh 8,94% secara year on year (yoy). Kenaikan itu menguat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2018 sebesar 8,54%.

“Sampai dengan April 2018, kinerja kredit perbankan tumbuh sebesar 8,94%,” kata Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo, lewat keterangan resmi, Rabu (23/5/2018).

Sementara itu, jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan tumbuh sebesar 8,06% yoy. Dari sisi risiko, OJK memandang risiko kredit dan risiko pasar masih dalam level yang manageable.

“Rasio NPL [non-performing loan] gross perbankan tercatat sebesar 2,79%,” tambah Anto.

Lebih lanjut, OJK juga menyampaikan kecukupan permodalan perbankan masih sangat memadai. Hal itu ditunjukkan dengan capital adequacy ratio (CAR) yang tercatat di level 22,38% per April 2018.

OJK menilai bahwa sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, masih dalam kondisi yang cukup memadai untuk memitigasi dampak turutan dari dinamika pasar keuangan global.

“Ke depan, OJK akan terus mencermati perkembangan perekonomian global dan faktor-faktor risiko yang menyertai antara lain kenaikan suku bunga dan perkembangan negosiasi dagang AS-China, serta pengaruhnya terhadap kinerja sektor jasa keuangan nasional.”

Secara keseluruhan, Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan OJK menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga.

Adapun, tekanan yang terjadi di pasar keuangan dinilai lebih dipicu oleh sentimen global terkait dengan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan lebih agresif, dan direspons dengan kenaikan imbal hasil di pasar surat utang AS.

Imbal hasil surat utang Amerika Serikat bertenor 10 tahun sempat mencapai 3,11%, level tertinggi sejak 2011. Kondisi itu pada gilirannya mendorong investor untuk melakukan portfolio rebalancing khususnya dengan melakukan penyesuaian investasi di emerging markets termasuk Indonesia.  

Sejalan dengan perkembangan tersebut, investor non residen melakukan net sell  baik di pasar saham maupun pasar surat utang negara.

Walhasil, seiring dengan tren penurunan indeks saham di beberapa negara berkembang, IHSG pada akhir April 2018 ditutup terkoreksi menjadi 5.994,6.

Di pasar surat berharga negara (SBN), imbal hasil SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 42,2 bps, 28,7 bps, dan 14,2 bps. Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan yield pada Maret 2018 dengan rata-rata meningkat 5 bps.

Tag : kredit
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top