Kenaikan Suku Bunga Acuan: Pembiayaan Multiguna Paling Terdampak

Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5% menjadi tantangan dan diprediksi akan memengaruhi kinerja bisnis perusahaan pembiayaan.
Azizah Nur Alfi | 24 Mei 2018 21:14 WIB
Ilustrasi
Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5% menjadi tantangan dan diprediksi akan memengaruhi kinerja bisnis perusahaan pembiayaan. 
 
Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo berpendapat, kenaikan suku bunga acuan yang tinggi akan berdampak pada kinerja bisnis industri pembiayaan, baik pencapaian target maupun rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming finance/NPF). 
 
Target penyaluran pembiayaan dapat terkoreksi seiring dengan permintaan yang menurun. Meski berdampak pada target, perseroan belum akan melakukan revisi target penyaluran pembiayaan sepanjang 2018. 
 
Sepanjang tahun ini MTF mematok target pembiayaan senilai Rp24 triliun atau meningkat 8% dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp22,2 triliun. Pada kuartal I/2018, anak usaha PT Bank Mandiri Tbk. (Persero) ini membukukan penyaluran pembiayaan senilai Rp6,6 triliun atau lebih dari 25% target tahun ini. 
 
Lebih lanjut, dia mengatakan, dampak kenaikan suku bunga akan terasa pada pembiayaan multiguna. Ini seiring dengan bunga multiguna yang besar. 
 
"Kalau untuk pembiayaan mobil, dampaknya terasa kalau bunga naik tinggi," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (24/5/2018). 
 
Dia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan 25 bps masih belum banyak memengaruhi MTF. Perseroan saat ini terus memantau perkembangannya dan mencermati kondisi pasar. 
 
Namun, jika Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan, maka kemungkinan besar perusahaan pembiayaan akan menaikkan suku bunga untuk pembiayaan yang baru. Sementara, suku bunga tetap atau mengikat berlaku bagi pembiayaan yang sudah berjalan. 
 
"Kami masih mencermati pasar. Kalau [suku bunga] naik sedikit, kami masih bisa tahan 1-2 bulan. Namun, kalau naik banyak per minggu juga bisa naik," imbuhnya. 
 
Di tengah kenaikan suku bunga acuan, perseroan tetap menjalankan strategi dengan ikut serta pada pameran untuk mendukung penjualan diler mobil. Serta fokus di area Jawa dan Sumatera dengan kompetisi ketat sehingga marjin tidak bisa besar. 
 
Perseroan masih dapat memperoleh marjin normal di area Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Bagian Timur. Di samping itu, pihaknya tetap mencari sumber dana murah. 
 
"Kenaikan kurs juga jadi tantangan karena untuk ambil dana dari luar negeri bunganya dengan hedging jadi naik," imbuhnya. 
 
Tag : pembiayaan
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top