BI Yakin Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat Hadapi Tekanan Eksternal

Bank Indonesia meyakini ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Annisa Margrit, Hadijah Alaydrus, Ipak Ayu Nurcaya & Ropesta Sitorus | 28 Mei 2018 11:57 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia meyakini ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pelemahan nilai tukar juga dirasakan oleh negara maju dan emerging marketKondisi ini lebih disebabkan oleh perubahan kebijakan AS dan fenomena yang sama dialami oleh negara-negara lain.

Dalam konferensi pers Penguatan Koordinasi Untuk Stabilisasi dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Jakarta, Senin (28/5/2018), dia menyebutkan ada tiga faktor penyebab kondisi ini. 

Pertama, rencana kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan lebih agresif seiring membaiknya perekonomian AS. Inflasi semakin tinggi sehingga pelaku pasar memproyeksi Fed Rate bakal dinaikkan hingga empat kali pada tahun ini.

Seperti diketahui, pada 21 Maret 2018 bank sentral AS telah menaikkan suku bunganya dari 1,5% menjadi 1,75%. 

Kedua, kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif disertai penurunan pajak dan ekspansi fiskal yang besar. Sehingga, defisit fiskal menjadi lebih tinggi dengan 4% per PDB dan bahkan diperkirakan mencapai 5% per PDB pada 2019.

Hal ini membuat utang AS lebih tinggi, sehingga bunga treasury bond naik. US Treasury Bond semula diperkirakan hanya 2,75%, sejak Februari 2018 justru naik menjadi 3,2% dan sekarang 3,1%.

"Itu kenapa terjadi capital reversal dan pembalikan modal dari negara maju maupun emerging market ke AS. Pada saat yang sama, mata uang dolar AS menguat ke seluruh mata uang dunia," tutur Perry.

Ketiga, ada sejumlah risiko geopolitik termasuk ketidakpastian global terkait perang dagang AS-China. Menurutnya, hal ini tidak hanya membuat suku bunga AS naik dan dolar AS menguat, tapi juga menyebabkan premi risiko global meningkat.

Meski demikian, BI meyakini ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal.

"Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat, itu yang menunjukkan koreksi harga di nilai tukar, yield obligasi, dan saham year-to-date (ytd) Indonesia sebetulnya cukup baik," tambah Perry.

Dia menyebutkan ada tiga faktor yang membuat ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat. Pertama, fundamental ekonomi Indonesia cukup baik.

Hal ini digambarkan dengan inflasi yang jauh lebih rendah dibandingkan pada periode taper tantrum pada 2013 yang mencapai 8,3%, defisit transaksi berjalan yang lebih baik dibandingkan masa taper tantrum yang menyentuh 4,3%, stabilitas sistem keuangan terjaga, defisit fiskal terjaga, dan pertumbuhan ekonomi sedang dalam proses pemulihan.

Kedua, keberanian dan kesiapan dalam mengambil kebijakan terkoordinasi.

Ketiga, ada bantalan yang cukup kuat dalam menghadapi sejumlah tekanan eksternal. Cadangan devisa (cadev) saat ini yang senilai US$124,86 miliar diklaim lebih dari cukup untuk pembayaran impor, utang luar negeri, atau antisipasi capital reversal.

Selain itu, ada UU Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan yang menjadi jaring pengamanan krisis keuangan. 

Berdasarkan catatan Bisnis, rupiah terus mengalami penguatan pada perdagangan Senin (28/5). Hingga pukul 11.11 WIB, rupiah di pasar spot telah meninggalkan level 14.000 dan mulai memasuki level 13.984. 

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, ekonomi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top