Suku Bunga 7-DRR 4,75%, Stamina Baru untuk Obligasi

Keputusan Bank Indonesia menaikkan lagi suku bunga acuan 7 Days Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75% disambut baik investor dengan kembali masuk ke pasar surat utang negara.
Tim Bisnis Indonesia | 31 Mei 2018 11:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia menaikkan lagi suku bunga acuan 7 Days Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75% disambut baik investor dengan kembali masuk ke pasar surat utang negara.

Topik ini diangkat menjadi headline koran Bisnis Indonesia edisi Kamis 31 Mei 2018. Berikut laporan selengkapnya.

Hal itu disusul dengan imbal hasil atau yield di pasar surat utang negara yang masih bertahan di kisaran 7%-an.

Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Dhian Karyantono memper­kira­kan, dalam jangka pendek, kenaikan tingkat suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7-DRR) ke level 4,75% memberikan dampak positif ke pasar obligasi.

“Untuk Juni 2018, yield obligasi Indonesia, khususnya 10 tahun, saya perki­rakan masih dalam tren meningkat atau lebih tinggi dibandingkan dengan akhir bulan ini ke kisaran 7,20%—7,40%,” kata­nya, Rabu (30/5).

Ramdhan Ario Marutho, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan investor sudah menunggu-nunggu Bank Indonesia (BI) menaikkan lagi 7-DRR mengingat yield di pasar obligasi sudah lebih dahulu naik.

Dia berharap kenaikan 7-DRR mampu mere­dam tekanan jual asing di pasar modal Indonesia. Namun, dia menilai pasar Indonesia masih tetap rentan dalam 1—2 bulan mendatang. Sementara itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun belum selesai.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (30/5), nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.993 per dolar AS. Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,94% atau 52,27 poin ke level 6.011,05.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menilai kenaikan BI 7-DRR sebesar 25 bps untuk yang kedua kalinya tidak mem­berikan dampak banyak ke pasar saham karena momentumnya telah lewat. “Kalau naik 25 bps percuma, tidak ada dampak, ini hanya psikologi untuk mengejar ketertinggalan dampak ekonomi. Berbeda kalau dinaikkan 50 bps, ini akan berdampak meskipun akan ada konsekuensi ,” kata Tito.

Tito menjelaskan pergerakan IHSG tidak sepenuhnya terpengaruh oleh suku bunga, tetapi juga faktor lain, seperti perang dagang AS-China, krisis di Italia, serta faktor eksternal lainnya.

Ketidakpastian geopolitik di Italia, katanya, berdampak pada ekonomi global. Pasalnya, krisis di Italia, menjadi pertimbangan Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate).

Direktur Medley Global Advisors Paul Richards menilai masalah bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia adalah ketidakpastian atas prospek yang dibawa Italia, selama beberapa bulan mendatang menjelang Pemilu Baru, yang secepatnya digelar pada September 2018.

Hal itu turut memberi ketidakpastian terhadap outlook kenaikan suku bunga The Fed.

“Dengan risiko geopolitik semacam ini, mereka , harus membuat keputusan tepat saat Pemilu Italia. Risiko geopolitik ini benar-benar akan membawa September menjadi tanda tanya,” ujar Paul Richards, seperti dikutip Bloomberg.

Likuiditas Cukup

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menjamin likuiditas rupiah dan valuta asing terjaga pascakeputusan bank sentral menaikkan suku bunga acuan 7-DRR menjadi 4,75%.

“Kami pastikan likuiditas cukup. Kalau cukup bank tidak punya alasan berlomba-lomba berebut dana dengan menaikkan suku bunga,” katanya.

Perry juga meminta bank tak menaikkan suku bunga kredit terlalu cepat. Alasannya, bank juga belum merespons secara kese­luruhan penurunan suku bunga acuan BI sebanyak 200 basis poin setahun terakhir.

BI juga akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan kenaikan suku bunga acuan tidak serta merta menaikkan suku bunga deposito dan kredit.

“Suku bunga kredit mestinya belum naik. Bank bisa melakukan efisiensi over head cost. Kami akan koordinasi dengan OJK,” tutur Perry.

BI juga akan meng­kaji langkah makro­pru­den­sial dan sistem pembayaran yang bisa mendorong pertumbuhan kredit bank. Salah satunya adalah relaksasi aturan Loan to Value.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai kenaikan BI 7-DRR sebanyak 25 bps menjadi 4,75% sudah tepat. “Karena kebi­jakan intervensi itu dibutuhkan sebagai sentimen positif dari pelaku pasar,” tuturnya.

Dia mengharapkan ada banyak instru­men keuangan dengan yield yang menarik bagi investor, sehing­ga dapat menghambat keluarnya dana asing.

Kepala Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat UI Febrio Kacaribu mengatakan, kenaikan suku bunga acuan bisa meredam depresiasi rupiah, tetapi sebaliknya bisa juga membuat penyaluran kredit terganggu.

“Besar kemungkinan target penyaluran kredit double digit itu jadi sulit tahun ini,” katanya.

Dia menjelaskan, dengan kenaikan suku bunga acuan akan membuat net interest margin (NIM) perbankan terpangkas.

Hal tersebut karena kenaikan suku bunga hanya akan berpengaruh 50% terhadap dkenaikan suku bunga kredit, dan 100% terhadap suku bunga deposito. “Dengan pengaruhnya yang kecil itu mengartikan penyaluran kredit yang sulit,” imbuhnya.

Namun, kata Febry, penyaluran kredit yang tidak mencapai target tersebut tidak dapat diartikan perekonomian juga akan melambat, karena komposisi pertumbuhan ekonomi tidak hanya dibiayai oleh kredit.

 

Tag : Obligasi, Suku Bunga
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top