PERENCANAAN KEUANGAN: Menghindari Jebakan Pendapatan

Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya adalah karena gaya hidup yang tinggi dan minim untuk menabung dan berinvestasi. Perencana keuangan OneShildt M. Andoko mengatakan orang-orang seperti itu biasanya mengikuti tren gaya hidup tanpa memikirkan keuangan di masa depan.
Asteria Desi Kartika Sari | 01 Juni 2018 21:51 WIB
Perencanaan - Istimewa

Bisa jadi Anda sukses di masa kini, namun kemudian hari bahkan di masa tua banyak terlilit utang hingga jatuh kembali ke titik nol karena salah merencanakan keuangan. Entah karena pensiun, harta habis tak bersisa, dan tidak memiliki investasi apa pun.

Pada kondisi tersebut muncul istilah middle income trap, yakni kondisi keuangan mengalami stagnasi pada level middle terus menurus. Kondisi seperti itu membuat sulit untuk naik kelas atau untuk mencapai keuangan yang sehat dan wealthy. Padalah, penghasilan sebelumnya mampu untuk memenuhi biaya hidup.

Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya adalah karena gaya hidup yang tinggi dan minim untuk menabung dan berinvestasi. Perencana keuangan OneShildt  M. Andoko mengatakan orang-orang seperti itu biasanya mengikuti tren gaya hidup tanpa memikirkan keuangan di masa depan.

Kebanggaan atau gengsi terhadap barang bermerek, gaya hidup tinggi, pergaulan sosialita sudah menjadi kebiasaan. Padahal, jika ditinjau dari keuangan hal tersebut tidak dapat dilakukan.

“Jebakan itu memang terjadi. Itu paradoks keuangan, artinya ketika penghasilannya bertambah tinggi pada saat yang sama memiliki potensi kehilangan income yang tinggi melalui gaya hidup. Apalagi gaya hidup semakin komplek,” jelas Andoko.

Andoko menuturkan ketika seseorang memiliki penghasilan yang cukup baik, kebutuhan seperti sandang, papan, dan pangan merasa sudah terpenuhi selanjutnya mereka ingin aktualisasi diri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan gaya hidup mewah atau memiliki barang-barang mahal.

“Misalnya jalan-jalan [luar negeri], biasanya kalau sudah pernah jalan-jala habis itu ketagihan. Keinginan menjadi semakin besar, itu yang perlu diperhatikan,” katanya.

Kendati begitu, menjadi hal yang wajar sepanjang hal tersebut telah dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Mestinya, lanjut Andoko, kalau mereka memiliki tujuan keuangan akan lebih hati-hati untuk mengeluarkan uang. “Tujuan itu akan membantu menuntun apa yang mereka inginkan atau yang sesuai dengan kebutuhannya,” katanya.

Tak bisa dipungkiri, sejalan dengan berkembangan teknologi yang semakin canggih dapat membuat godaan pengeluaran semakin kuat, contohnya memiliki handphone canggih lebih dari satu, mobil lebih dari satu, dan berkumpul dengan sosialita.

Di sisi lain, lanjutnya, sebenarnya hal tersebut dapat membantu mempermudah aktivitas apabila kita dapat mengotrol penggunaan serta memahami tujuan keuangan dengan baik. “Namun jangan cuma dilihat sebagai jebakan, bisa juga mendapatkan income tambahan, aktivitas tambahan ataupun nerworking [yang lebih luas],” lanjutnya.

Oleh karena itu perencanaan keuangan menjadi kunci yang akan mempermudah dalam mengatur dan mengelola pendapatan. Agar tidak terjebak dengan keinginan sesat dan dorongan konsumtif semata, lebih baik menganalisis dahulu keungan yang dimiliki.

Ibaratnya, membaca dan menuliskan apa saja modal, aset, sumber keuangan yang Anda punya. Melalui analisis keuangan tersebut maka akan lebih mudah untuk membuat tujuan keuangan yang realistis.

Dalam merencanakan keuangan langkah awal yang perlu diperhitungkan adalah kemampuan finansial. Oleh karena itu, pertama yang harus dilakukan adalah mengategorikan mana kebutuhan prioritas mana yang bukan, dan setiap orang memiliki priorits yang berbeda-beda.

Setelah menentukan kebutuhan mana yang menjadi prioritas dan mana yang kurang maka seharusnya dapat memangkas anggaran belanja untuk keperluan yang tidak penting.

Menurut Andoko, dalam hal perencanaan keuangan sehari-hari, Anda harus memiliki budgeting anggaran. Idealnya, dari pemasukan perencanaanya paling tidak mencapai 20% untuk investasi, 35% untuk cicilan terbagi atas cicilan produktif 20% dan 15% cicilan konsumtif, sisanya 45% dapat diatur untuk kebutuhan lain seperti uang transportasi dan untuk kebutuhan anak.

Tag : tips keuangan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top