Perry Warjiyo: Reformasi Struktural Harus Ubah Defisit Transaksi Berjalan

Reformasi struktural yang tengah diupayakan pemerintah seharusnya diarahkan untuk membalikkan defisit transaksi berjalan menjadi surplus guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan tinggi.
Hadijah Alaydrus | 07 Juni 2018 04:40 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) dan Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (31/5/2018). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Reformasi struktural yang tengah diupayakan pemerintah seharusnya diarahkan untuk membalikkan defisit transaksi berjalan menjadi surplus guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan tinggi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan reformasi struktural yang meliputi deregulasi, liberaliasi perdagangan, reformasi keuangan, pengembangan infrastruktur, inovasi teknologi dan lain sebagainya sebaiknya difokuskan untuk menyasar poin-poin krusial untuk membalikkan kondisi defisit transaksi berjalan.

Pasalnya, surplus transaksi berjalan dibutuhkan oleh Indonesia jika ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi. Dengan posisi surplus, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih kuat dan tinggi.

"Ketahanan ekonomi ini nanti memudahkan untuk demand management itu kuncinya," kata Perry.

Perry mengungkapkan tiga strategi memanfaatkan reformasi struktural untuk memperbaiki kondisi transaksi berjalan. Pertama, mengarahkan fokus reformasi struktural ke sektor berbasis ekspor yang akan dikembangkan a.l. otomotif, makanan minuman dan farmasi.

Kedua, reformasi struktural di sektor pariwisata melalui 10 Bali Baru yang ditetapkan pemerintah.

Ketiga, reformasi struktural di transportasi perkapalan Indonesia. BI mencatat biaya pengapalan ekspor dan impor Indonesia menghabiskan cadangan devisa hingga US$12 miliar.

"Kalau bisa kita keryoki untuk mengurangi defisit transportasinya," ujar Perry. Langkah ini memiliki efek berganda yang baik yakni meningkatkan devisa ekspor di sisi lain.

Menurutnya, tiga fokus area tersebut harus dikerjakan secara bersama-sama melalui reformasi fiskal yang mencakup reformasi fiskal, deregulasi aturan, inovasi, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, dia menegaskan BI siap berpartisipasi dan bekerjasama dengan institusi pemerintah untuk mendorong surplus transaksi berjalan. "Riset boleh, tapi aksinya apa," tegas Perry.

Tag : bank indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top