Bank Dunia: Peningkatan Tarif Dapat Kembali Picu Krisis Global

Peningkatan perang tarif antar sejumlah negara dinilai dapat memicu kembali kondisi seperti yang dialami dalam krisis finansial global pada 2008.
Renat Sofie Andriani | 07 Juni 2018 09:50 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan perang tarif antar sejumlah negara dinilai dapat memicu kembali kondisi seperti yang dialami dalam krisis finansial global pada 2008.

Dalam laporan Global Economic Prospects terbaru, Bank Dunia menyampaikan pandangan yang suram untuk pasar global apabila perselisihan dagang yang sedang berlangsung antar sejumlah negara meningkat.

“Peningkatan tarif secara luas di seluruh dunia dapat memiliki konsekuensi merugikan yang besar bagi perdagangan dan aktivitas global,” papar laporan tersebut, seperti dilansir dari CNBC, Kamis (7/6/2018).

Laporan itu menyatakan peningkatan tarif hingga tingkat yang diizinkan secara hukum dapat menjadi penurunan dalam arus perdagangan global sebesar 9%, serupa dengan penurunan yang terlihat selama krisis finansial global pada 2008-2009.

Pada Maret 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor baja dan aluminium demi melindungi industri domestik dari apa yang dikatakannya sebagai persaingan tidak sehat dari produsen-produsen asing.

Pekan lalu, Pemerintah AS menyampaikan akan mengenakan tarif impor sebesar 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium yang datang dari Kanada, Uni Eropa (UE), dan Meksiko.

Seperti dilansir dari Reuters, Meksiko membalas dengan mengenakan tarif pada produk-produk AS seperti baja, babi, dan bourbon. Adapun Kanada berencana mengenakan tarif impor untuk sejumlah produk termasuk wiski, jus jeruk, baja, dan aluminium.

Ini merupakan perkembangan terbaru menyusul ancaman perdagangan antara AS dan China, dengan keduanya saling memberlakukan tarif terhadap produk masing-masing negara.

Gedung Putih sebelumnya menyampaikan tuduhan praktik perdagangan yang tidak adil oleh China dan surplus perdagangannya yang besar atas AS. Kedua negara saat ini sedang bernegosiasi dalam upaya untuk menghindari atau mengurangi tarif.

Sementara itu, negosiasi untuk merombak Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (North America Free Trade Agreement/NAFTA) telah gagal menghasilkan kesepakatan komprehensif, sehingga berpotensi memberi ancaman serupa.

Menurut Bank Dunia, area yang berpotensi paling terpukul dalam hal meningkatnya proteksionisme adalah emerging markets dan developing economies, dengan sektor-sektor seperti pertanian dan pengolahan makanan.

Selain itu, setiap kemunduran untuk aktivitas perdagangan di China atau AS, dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia, dapat memberi efek negatif yang signifikan untuk seluruh dunia melalui perdagangan, tingkat kepercayaan, keuangan, dan pasar komoditas.

Tag : bank dunia, tarif impor
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top